SOLUSI ESKATOLOGIS ATAS PENYALAHGUNAAN HADITS
*SOLUSI ESKATOLOGIS ATAS PENYALAHGUNAAN HADITS*
Dalam khazanah pemikiran Islam, terdapat banyak penafsiran terhadap hadits-hadits yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa akhir zaman. Namun, banyak kasus dimana penafsiran atas hadits-hadits, terutama yang mengandung dimensi eskatologis, disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan ideologis atau politik.
Salah satu tokoh yang menawarkan penafsiran alternatif terhadap hadits-hadits tersebut adalah Syekh Imran Hosein, seorang cendekiawan Muslim kontemporer dengan pendekatannya yang mendalam dan kritis dalam Studi Islam, khususnya Eskatologi.
Dalam beberapa karya tulis dan video kuliahnya, Syekh Imran memberikan perspektif yang berbeda dari pemahaman mainstream terhadap sejumlah hadits.
Artikel ini akan mengulas beberapa contoh penafsiran alternatif yang ditawarkan oleh Syekh Imran serta pentingnya pendekatan ini dalam meluruskan penyalahgunaan hadits.
*Penyangkalan Klaim Mirza Ghulam Ahmad tentang Imam Mahdi dan Nabi Isa*
Salah satu klaim yang banyak diperdebatkan adalah klaim Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Gerakan Ahmadiyah, yang menyatakan bahwa dirinya adalah Imam Mahdi dan reinkarnasi Nabi Isa.
Klaim ini tidak hanya bertentangan dengan konsensus mayoritas umat Islam, tetapi juga memanfaatkan hadits-hadits eskatologis untuk mendukung pandangan tersebut. Syekh Imran Hosein memberikan bantahan yang komprehensif terhadap klaim ini dalam bukunya Yerusalem dalam Al-Qur'an (2001).
Dalam buku tersebut, Syekh Imran menulis di Bab IX yang secara khusus membahas dan membantah klaim tersebut, dengan menggunakan argumen-argumen yang berbasis pada pemahaman tekstual dan historis terhadap hadits-hadits eskatologis.
Syekh Imran berpendapat bahwa klaim semacam itu hanya mungkin timbul dari kesalahpahaman atau manipulasi terhadap hadits-hadits yang seharusnya dipahami dalam konteks tertentu.
Penafsirannya tentang Imam Mahdi dan kembalinya Nabi Isa tidak hanya menekankan pada literalitas teks hadits, tetapi juga pada konteks sejarah dan geopolitik yang melatarbelakangi munculnya figur-figur eskatologis tersebut, yang semuanya tidak terpenuhi atau bertentangan dengan klaim tersebut.
Hadits eskatologis dalam subjek ini ditemukan antara lain:
Tentang kembalinya Nabi Isa, diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Sahih Muslim, 2906; dan Sahih Bukhari, no. 6596. Tentang Imam Mahdi, diriwayatkan oleh Abu Dawud, 4284; dan Tirmidzi, 2230.
*Sanggahan terhadap Hadits tentang Pernikahan Nabi Muhammad dengan Gadis di Bawah Umur*
Salah satu hadits yang sering disalahgunakan adalah hadits yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad menikahi Aisyah yang masih di bawah umur. Hadits ini, yang berasal dari Sahih Bukhari, 5134 dan Muslim, 3472 telah digunakan oleh beberapa faksi, terutama di kalangan Syiah, untuk melegalkan praktik pernikahan dengan gadis di bawah umur.
Syekh Imran menawarkan pendekatan kritis terhadap hadits ini, dengan mengajukan argumen bahwa tidak semua hadits dapat diterima tanpa pengujian yang teliti.
Dalam bukunya "Metodologi untuk Mengkaji Al-Qur'an", Syekh Imran menyatakan bahwa tidak ada satu pun hadits yang setara dengan Al-Qur'an. Oleh karena itu, ketika suatu hadits bertentangan dengan prinsip-prinsip yang jelas dalam Al-Qur'an, maka hadits tersebut harus ditolak.
Dalam subjek ini, terdapat beberapa poin penting pemikiran Syekh Imran:
Pertama, pernyataannya bahwa tidak ada hadits yang setara dengan Al-Qur'an, implikasinya ketika ada hadits yang kontradiktif dengan Al-Qur'an, maka Al-Qur'an harus digunakan untuk menilai Hadits;
Kedua, ini melahirkan subtema baru dalam kajian Islam, yaitu fungsi Al-Qur'an terhadap Hadits. Selama ini yang banyak dibahas dalam kajian Islam adalah fungsi Hadits terhadap Al-Qur'an;
Ketiga, konsistensi terhadap hierarki sumber pengetahuan dalam Islam (Al-Qur'an, Hadits, Ijtihad). Dalam konteks ini, hadits pun tidak bisa setara dengan Al-Qur'an, apalagi hasil ijtihad, termasuk temuan atau hasil ijtihad menurut pendekatan disiplin ilmu tertentu.
Dalam hal ini, Al-Qur'an tidak pernah memberikan legitimasi terhadap pernikahan dengan gadis di bawah umur. Kapan pun Al-Qur'an berbicara tentang pernikahan, selalu dihubungkan dalam konteks حرث, harts, yaitu 'kebun' yang siap menerima benih. Artinya, sudah matang secara biologis sehingga siap menerima benih janin.
Keempat, terjadinya kakacauan hierarkis dengan mendahulukan Hadits daripada Al-Qur'an, bisa menghasilkan pengetahuan yang menyesatkan, apalagi jika mulai dan berhenti pada hasil ijtihad tanpa merujuk kepada (penafsiran) Al-Qur'an dan Hadits; dan
Kelima, dengan kasus ini menunjukkan bahwa Syekh Imran juga menerima kemungkinan adanya kepentingan tertentu yang disusupkan dalam proses kompilasi hadits, yang baru terjadi setelah 300 tahun wafanya Nabi SAW. Namun solusi yang ditawarkannya, ialah memberikan penafsiran alternatif yang kontekstual, alih-alih menolak semua teks Profetik.
*Keluarnya Ya'juj dan Ma'juj dalam Dua Gelombang*
Dalam tema yang sama, terdapat contoh lain, yaitu dalam memahami kapan Ya'juj dan Ma'juj dikeluarkan. Mayoritas ulama berpendapat bahwa Ya'juj dan Ma'juj saat ini belum keluar, sedangkan Syekh Imran berpendapat sudah keluar.
Al-Qur'an menggunakan istilah فتحة, dibuka, sedang Hadits menggunakan istilah يبعث, mengutus untuk menjelaskan Ya'juj dan Ma'juj.
Perspektif Eskatologi Islam menyatakan bahwa Ya'juj dan Ma'juj dilepaskan dalam dua gelombang. Gelombang pertama (فتحة) sudah lama terjadi dengan bukti kembalinya kaum Yahudi ke Israel (QS. Al-Anbiya: 97), dan fakta tentang penyusutan permukaan air danau Tiberias. Sedangkan gombang kedua (يبعث) saat ini belum terjadi dan baru akan terjadi ketika Nabi Isa sudah kembali (Lihat: Shahih Muslim dalam Al-Fitan, 5228).
Pemahaman demikian tidak mungkin diperoleh tanpa analisis konteks geopolitik global. Analisis konteks historis-geopolitik ini menunjukkan relevansi dan urgensi analisis tekstual dan kontekstual seluruh Teks Profetik yang relevan dengan konteks sejarah secara terintegrasi.
Inilah esensi buku babon dalam Eskatologi Islam "Yerusalem dalam Al-Qur'an".
*Wafatnya Seorang Khalifah sebelum Kemunculan Imam Mahdi*
Salah satu hadits yang sering disalahpahami adalah hadits yang menyebutkan bahwa Imam Mahdi akan muncul setelah wafatnya seorang khalifah. Dalam beberapa kalangan tertentu, hadits ini dipahami bahwa untuk munculnya Imam Mahdi, sebuah sistem khilafah harus terlebih dahulu ditegakkan. Hal ini membawa implikasi bahwa pengembalian khilafah adalah prasyarat bagi kedatangan Imam Mahdi.
Namun, Syekh Imran memberikan penafsiran alternatif terhadap hadits ini, bahwa yang dimaksud dengan wafatnya khalifah dalam hadits ini adalah wafatnya seorang kepala negara tertentu, yang kemungkinan besar adalah seorang raja.
Syekh Imran menekankan bahwa fase _mulkan jabbariyyan_ (pemerintahan tiranik) harus berakhir sebelum fase _khilafah ala minhaji nubuwwah_ (khilafah yang sesuai dengan metode kenabian) dapat dimulai.
Ia juga berargumen bahwa tidak mungkin ada dua fase yang berjalan bersamaan, sehingga fase kelima _(khilafah ala minhaji nubuwwah)_ hanya bisa terjadi setelah fase keempat _(mulkan jabbariyyan)_ berakhir.
Iyu sebabnya, Eskatologi Islam menyimpulkan, bahwa peralihan dari fase keempat menuju fase kelima dan terakhir ini tidak mungkin terjadi tanpa perang besar atau _malhamah kubra._ Dalam masa transisi inilah kondisi dunia kita sekarang berada.
Artinya, fase khilafah hanya bisa terjadi pada lanskap dunia baru yang sebagai dampak dari perang besar, sehingga tidak bisa terjadi pada fase para penguasa tiranik yang saat ini tampaknya sedang menuju puncak dominasinya (ini dimensi alasan lain kenapa mereka membutuhkan perang besar).
Perspektif ini penting, karena menunjukkan bahwa dengan pemahaman proporsional atas hadits dalam subjek ini, sama sekali tidak berimplikasi pada gerakan politik tertentu, atau apalagi pada mobilisasi kekuatan untuk menggulingkan pemerintahan tertentu. Contoh paling ekstrim dalam subjek ini adalah gerakan militer ISIS di Suriah.
Eskatologi Islam menyatakan, bahwa tidak mungkin memahami apa sebenarnya yang dimaksud fase _mulkan jabbariyyan_, tanpa melibatkan analisis tentang peran gerakan zionisme yang mencengkram dunia dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga mereka bisa memaksakan _(jabbariyyan)_ kehendaknya, terutama dalam politik, ekonomi dan budaya global.
Ini yang menjelaskan kenapa dunia kini berada dalam ancaman perang besar bahkan perang nuklir. Dan dunia Islam diam atas isu penting ini.
(Rujukan Hadits tentang kemunculan Imam Mahdi dan wafatnya khalifah, diriwayatkan dalam Sahih Muslim, 2940; dan Sunan Abu Dawud, 4281; dan Imam Ahmad, 18430 tentang lima fase sejarah).
*Kesimpulan*
Penyalahgunaan hadits-hadits eskatologis berakar pada kepentingan ideologis atau politik tertentu. Oleh karena itu, penafsiran alternatif terhadap hadits-hadits tersebut sangat penting, bukan hanya untuk meluruskan kesalahan pemahaman, tetapi juga untuk menunjukkan relevansi ajaran Islam dalam konteks zaman.
Syekh Imran dengan pendekatannya yang kritis dan kontekstual, memberikan kontribusi penting dalam meluruskan interpretasi-interpretasi yang keliru, dan menawarkan pemahaman yang lebih mendalam berlandaskan pada prinsip-prinsip Al-Qur'an dan Hadits.
Syekh Imran juga menekankan bahwa tidak semua hadits dapat diterima begitu saja tanpa mempertimbangkan konteks, riwayat, dan integritas teks. Pendekatan yang lebih inklusif dan rasional, yang mempertimbangkan baik teks Al-Qur'an maupun hadits, dan konteks sejarah, akan menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang universal.
Artikel ini menyentuh isu penting dalam Studi Islam, yaitu penyalahgunaan hadits untuk kepentingan ideologis atau politik tertentu sepanjang sejarah.
Penyalahgunaan hadits, terutama yang berkaitan dengan tema akhir zaman, sering digunakan untuk memperkuat agenda tertentu, baik oleh individu, kelompok, maupun negara. Fenomena ini telah menimbulkan skeptisisme terhadap seluruh hadits eskatologis, bahkan dalam kalangan Muslim sendiri.
Pandangan ini menganggap bahwa tema akhir zaman lebih bersifat kontra-produktif dibandingkan manfaat, mengingat potensinya untuk menciptakan ketegangan politik dan sosial.
Namun, menolak seluruh hadits eskatologis hanya karena adanya penyalahgunaan hadits-hadits tertentu adalah pendekatan yang tidak adil dan tidak konstruktif. Karena itu, yang diperlukan adalah upaya kritis untuk membedakan mana hadits yang autentik dan relevan, serta menawarkan penafsiran yang sesuai dengan konteks zaman.
Melalui pendekatan tekstual-konseptual, Eskatologi Islam tidak hanya berupaya memahami makna literal Teks, tetapi juga menghubungkannya dengan kondisi global kontemporer. Hal ini membuka ruang bagi Islam untuk memberikan respon terhadap isu-isu seperti krisis lingkungan, ketidakadilan global, dan konflik geopolitik, yang semuanya memiliki resonansi eskatologis.
Tema Dajjal, misalnya, selain difahami secara literal, juga ditafsirkan sebagai simbol kekuatan global yang mendistorsi nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Tafsir seperti ini memungkinkan umat Islam untuk memahami posisi dan perannya dalam menghadapi tantangan global dengan cara yang lebih strategis dan visioner.
*Refleksi*
Pendekatan Eskatologi Islam memiliki potensi untuk menetralisir pandangan bahwa membahas tema akhir zaman hanya akan memperparah pesimisme atau fanatisme. Sebaliknya, ketika tema ini disikapi dengan intelektualisme dan spiritualitas, ia dapat menjadi sumber motivasi untuk berkontribusi dalam memperbaiki dunia, selaras dengan ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
Penyalahgunaan hadits tidak seharusnya menjadi alasan untuk menolak kajian eskatologi secara keseluruhan. Dengan penafsiran yang tepat, hadits eskatologis dapat menjadi alat untuk memahami dinamika global dan memberikan kontribusi positif bagi dunia.
Dengan begitu, Islam melalui pendekatan eskatologis yang produktif, mampu menghadirkan solusi yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga kontekstual, dalam merespons isu-isu kontemporer.
والله اعلم
MS 05/01/24
Komentar