PARADOKS MODERNISME
*PARADOKS MODERNISME*
Modernisme, yang lahir dari pencerahan barat, menawarkan optimisme besar terhadap kemajuan sains, teknologi, dan humanisme. Namun, dalam perjalanan sejarah, modernisme justru menciptakan berbagai paradoks, salah satunya adalah ketidakmampuan untuk memahami akar persoalan global.
Salah satu kritik utama terhadap modernisme adalah penolakannya terhadap narasi eskatologis, yang dianggap tidak relevan dengan problem kontemporer. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, narasi akhir zaman justru mampu menjelaskan akar problem global yang menciptakan ketidakadilan, kemiskinan struktural permanen, dan penindasan sistemik.
*Modernisme, Modernitas, dan Eskatologi Islam*
Dalam konteks Eskatologi Islam, modernisme dan modernitas memiliki makna yang berbeda, namun terkait.
Modernitas merujuk pada kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang timbul dari proses modernisasi. Fokusnya pada aspek objektif dan struktural. Contohnya, globalisasi sistem politik dan ekonomi, dan perkembangan teknologi.
Modernisme merujuk pada ideologi atau gerakan yang mengagungkan nilai-nilai modernitas. Fokusnya pada aspek subjektif dan ideologis. Contohnya, gerakan sekularisme, liberalisme, dan rasionalisme.
Kritik Eskatologi Islam terhadap dampak modernitas pada masyarakat Islam fokus pada pengaruh globalisasi terhadap identitas Islam, dan peran teknologi dalam mengubah nilai-nilai sosial.
Kritik terhadap ideologi modernisme yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, seperti: sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan publik; liberalisme yang mengancam nilai-nilai moral Islam.
Syekh Imran mengkritik modernitas yang menyebabkan umat Islam kehilangan identitas dan nilai-nilai spiritual. Kritikan ini sejalan dengan Iqbal yang mengkritik modernisme yang mengancam nilai-nilai Islam dan mengadvokasi sintesis antara modernitas dan Islam.
Dalam konteks kritik Eskatologi Islam, modernisme dan modernitas sering digunakan secara bergantian untuk mengkritik pengaruh ideologi dan kondisi sosial yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
*Paradoks Modernisme*
Modernisme cenderung berfokus pada problem-problem lokal-nasional yang kasat mata, seperti isu pembangunan, urbanisasi, atau pendidikan. Namun, modernisme gagal melihat masalah-masalah tersebut sebagai manifestasi dari problem global yang lebih besar, seperti eksploitasi sumber daya oleh negara-negara maju, hegemoni ekonomi kapitalistik, dan sekularisme yang mengikis nilai-nilai spiritual.
Kritik terhadap narasi eskatologis muncul dari ketidakmampuan modernisme memahami bahwa banyak persoalan kontemporer memiliki akar yang berhubungan erat dengan sistem nilai global yang bersifat destruktif.
Dalam Al-Qur'an, mereka yang hanya mampu melihat persoalan dunia secara superfisial disinyalir sebagai:
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai."
(QS. Ar-Rum: 7).
Hal ini relevan dengan kritik terhadap modernisme, di mana fokus pada aspek materialistik dan sekuler melahirkan budaya "melihat dunia dengan sebelah mata" sebagaimana disinggung dalam hadits:
"Tidak ada fitnah yang lebih besar sejak Adam hingga datangnya Dajjal. Ia buta sebelah matanya..." (HR. Muslim, 7560).
Dalam hadis ini, "buta sebelah mata" ditafsirkan oleh ulama eskatologis seperti Sheikh Imran sebagai metafora ketidakmampuan melihat kehidupan secara utuh: satu mata melihat sisi material, tetapi mata lainnya buta terhadap aspek spiritual.
Kaum modernis menonjolkan sikap kritis terhadap tradisi Islam, termasuk penolakan atas hadits-hadits yang membahas aktor-aktor eskatologis seperti Imam Mahdi dan Nabi Isa. Mereka menganggap narasi ini tidak relevan dengan konteks modern atau tidak memenuhi standar ilmiah.
Ironisnya, sikap skeptis ini tidak sejalan dengan penerimaan mereka terhadap sumber-sumber non-Islam yang kontroversial, seperti buku The Jesus Scroll karya Donovan Joyce atau The Da Vinci Code karya Dan Brown, yang kurang berbasis fakta historis tentang kehidupan Nabi Isa AS, dan lebih bersifat spekulatif atau malah lebih cocok disebut sebagai cocoklogi.
Fenomena ini mencerminkan standar ganda dalam menilai validitas narasi: tradisi internal Islam dianggap tidak layak diverifikasi, sementara klaim dari luar Islam diterima tanpa kehatian-hatian yang sama.
Esensi kritik Eskatologi Islam terhadap rasionalisme dan empirisme kaum modernis, bahwa modernitas tidak cukup menjawab tantangan zaman. Dengan hanya mengandalkan metode ilmiah dan rasional, mereka gagal menangkap dimensi mendalam dari realitas dunia, kehilangan daya kritis terhadap kelemahan fundamental modernitas, dan akhirnya tidak peka terhadap agenda global tersembunyi.
Oleh karena itu, Syekh Imran mendorong pendekatan yang menggabungkan literalitas teks wahyu dengan pemahaman kontekstual, sebagai sarana untuk membangun kesadaran kritis terhadap isu-isu global.
*Akar Problematika Global: Produk Modernisme*
Modernisme menciptakan sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan publik, materialisme yang menuhankan benda, dan hedonisme yang melupakan nilai-nilai spiritual.
Produk-produk modernisme ini melahirkan sistem nilai global yang menindas, seperti:
Ketidakadilan Ekonomi: Kapitalisme global menciptakan kemiskinan struktural permanen di negara-negara berkembang.
Penindasan Politik: Dominasi politik oleh kekuatan global menyebabkan ketidakstabilan di berbagai belahan dunia, khususnya kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan.
Dekadensi Nilai: Sekularisasi pendidikan yang mengikis nilai-nilai spiritual dan moral.
Ironisnya, modernisme gagal menyadari bahwa akar persoalan ini justru terletak pada fondasi nilai yang mereka bangun sendiri.
Fokus pada solusi lokal tanpa memikirkan akar persoalan global hanya menghasilkan tambal sulam tanpa solusi komprehensif.
*Kesimpulan dan Refleksi*
Modernisme yang menolak narasi eskatologis sesungguhnya telah kehilangan kepekaan dan kapasitas kritisnya untuk memahami dunia secara utuh. Mereka hanya melihat masalah pada tingkat mikro, seperti kemiskinan lokal, tanpa memahami bahwa akar masalahnya terletak pada sistem nilai global yang eksploitatif.
Karena itu, paradoks modernisme memerlukan refleksi mendalam dan kritik struktural.
Islam, melalui narasi eskatologisnya, menawarkan lebih dari sekadar solusi spiritual; ia menyajikan kritik mendalam terhadap struktur global yang menindas.
Ketidakmampuan memahami hakikat realitas di balik penampakan material dunia telah membawa umat manusia, termasuk umat Islam, ke dalam krisis multidimensi.
Modernisme, dengan obsesinya pada materialisme, pragmatisme, dan keberhasilan fisik, mengabaikan dimensi spiritual dan transendental. Akibatnya, tanda-tanda kerusakan peradaban—ketimpangan, eksploitasi, dan kemiskinan struktural permanen dalam skala global—sering luput dari perhatian.
Fondasi modernisme yang dianggap sebagai puncak peradaban justru menghasilkan ketidakseimbangan sistemik. Paradigma modernisme tidak hanya gagal membaca krisis yang mendasari struktur global, tetapi juga meminggirkan narasi Islam sebagai solusi transformatif.
Umat Islam sering hanya menjadi konsumen pasif dari peradaban modern, alih-alih pelopor peradaban berbasis nilai-nilai holistik Islam. Ketergantungan pada paradigma ini mereduksi Islam menjadi sekadar ritual formal, sementara prinsip-prinsip universal Islam—keadilan, kasih sayang, keberlanjutan—diabaikan.
Narasi eskatologis Islam hadir sebagai koreksi mendasar atas paradoks modernisme. Eskatologi tidak hanya menjadi pengingat akan akhir zaman, tetapi juga memberikan peta jalan untuk memahami arah sejarah dan peran umat dalam menegakkan keadilan.
Dominasi modernisme yang menekankan individualisme dan materialisme bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengedepankan keseimbangan komunitas dan ketundukan kepada Tuhan.
Islam menuntut pendekatan epistemologis yang holistik, di mana ilmu pengetahuan tidak terpisah dari akhlak, tujuan Ilahiah, dan kemaslahatan bagi kemanusiaan. Narasi eskatologis membuka peluang untuk merekonstruksi sistem nilai yang mampu menghadapi fitnah akhir zaman, ketidakadilan global, dan dominasi struktural yang destruktif.
Dunia intelektual Islam perlu merespon panggilan ini guna menjawab ketidakadilan struktural. Paradoks modernisme adalah peluang bagi umat untuk kembali kepada nilai-nilai dasar Islam, bukan sekadar untuk bertahan dalam sistem yang destruktif, tetapi untuk menciptakan peradaban baru yang memberikan solusi universal bagi umat manusia.
والله اعلم
MS 07/01/24
Komentar