FILOSOFI PERANG DALAM ISLAM

 *FILOSOFI PERANG DALAM ISLAM*


Perang merupakan salah satu realitas sejarah umat manusia yang seringkali menimbulkan penderitaan dan kehancuran.


Islam, sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, memiliki prinsip-prinsip yang mengatur perang agar tetap dalam koridor keadilan dan tidak keluar dari tujuan kemanusiaan. 


Dalam video kuliah berjudul "Filosofi Perang dalam Islam", Sheikh Imran Hosein menyoroti bagaimana Islam menempatkan perang sebagai upaya terakhir untuk melawan penindasan dan menegakkan keadilan. 


Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW dijadikan dasar untuk menjelaskan filosofi perang ini.


*Prinsip Dasar Perang dalam Islam*


Islam menegaskan prinsip "la tadzlimun wala tudzlamun" (jangan menindas dan jangan pula membiarkan dirimu tertindas), dalam Surat Al-Baqarah Ayat 279. Prinsip ini menolak segala bentuk penindasan, termasuk perbudakan, karena Islam datang untuk membebaskan manusia dari belenggu penindasan.


Ayat lain seperti "kutiba ‘alaikumul qital" (Al-Baqarah: 216) menjelaskan bahwa perang diwajibkan hanya dalam keadaan mendesak, yakni setelah semua jalan damai ditempuh dan gagal. 


Dalam Islam, perang harus dilakukan dengan tujuan menegakkan keadilan (jihad). Konsep ini serupa dengan doktrin _bellum justum_ dalam hukum internasional, yakni perang yang adil.


Ayat "wa la yajrimannakum syana’anu qawmin ‘ala alla ta’dilu" (Al-Maidah: 8) mengingatkan agar tidak membiarkan kebencian kepada suatu kaum menjadikan umat Islam berbuat tidak adil.


Selain itu, Islam menegaskan bahwa tanpa kewajiban berperang dalam konteks yang diizinkan Allah, kerusakan besar (fasad) akan terjadi di muka bumi. Hal ini disebutkan dalam Surat Al-Baqarah Ayat 251, dimana Allah menjelaskan bahwa jika Dia tidak mengizinkan sebagian manusia melawan sebagian lainnya, maka kerusakan akan meluas dan tatanan dunia akan runtuh.


*Penolakan terhadap Agresi*


Islam melarang agresi dengan firman-Nya: "wa la ta’tadu" (Al-Baqarah: 190). Perang hanya diizinkan dalam rangka membela diri atau melawan penindasan. 


Misalnya, dalam Surat Al-Hajj Ayat 39-40, Allah mengizinkan perang bagi mereka yang didzalimi: "udzina lilladzina yuqatiluna bi annahum dzulimu". Allah juga menjanjikan pertolongan bagi mereka yang berperang demi keadilan dan kebebasan, seperti yang dialami kaum tertindas di Gaza, yang terusir dari tanah mereka tanpa alasan yang benar.


Selain itu, Allah melarang umat Islam untuk berperang dengan musuh yang menginginkan perdamaian. Dalam Surat Al-Anfal Ayat 61, Allah berfirman: "wa in janahu lilssalmi fajnah laha", yang berarti jika mereka condong kepada perdamaian, maka umat Islam harus menerimanya dan tidak melanjutkan perang. 


Ini menunjukkan bahwa Islam selalu memprioritaskan perdamaian dibandingkan konflik.


*Etika Perang dalam Islam*


Islam memiliki aturan ketat tentang etika perang, seperti larangan membunuh non-kombatan, wanita, anak-anak, dan menghancurkan tempat ibadah. 


Firman Allah dalam Surat Al-Hajj Ayat 40 menjelaskan bahwa jika tidak ada izin berperang, maka tempat-tempat ibadah seperti masjid, gereja, dan sinagoge akan dihancurkan oleh agresor.


Hadis Rasulullah SAW menegaskan larangan membunuh non-kombatan, berbeda dengan tindakan agresi yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina, di mana rudal tidak membedakan antara pejuang dan warga sipil.


*Hubungan Perang dengan Riba*


Syekh Imran Hosein menyoroti bahwa sistem ekonomi ribawi merupakan salah satu pilar utama yang menopang konflik global, termasuk pendanaan perang di Gaza. 


Riba menciptakan ketergantungan ekonomi yang tidak adil, memperbudak negara-negara miskin melalui utang berbunga tinggi, dan memperkuat kekuasaan oligarki global. 


Negara-negara besar memanfaatkan ekonomi ribawi untuk mendanai industri militer, yang pada akhirnya digunakan untuk memperpanjang konflik dan menindas pihak yang lemah.


Contoh nyata adalah bagaimana dana dari sistem ekonomi ribawi digunakan untuk mendukung agresi Israel di Gaza. Bantuan militer tahunan dari negara-negara Barat kepada Israel, yang berasal dari anggaran berbasis utang ribawi, telah memungkinkan pembelian senjata canggih yang digunakan tidak hanya untuk melawan pejuang Palestina, tetapi juga untuk menghancurkan infrastruktur, rumah sakit, dan sekolah. 


Kejahatan ini terjadi di bawah naungan sistem ekonomi yang menindas, yang bertentangan langsung dengan prinsip keadilan dalam Islam.


Allah SWT dengan tegas menyatakan perang terhadap pelaku riba dalam Surat Al-Baqarah Ayat 279:

"Jika kamu tidak meninggalkan riba, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu..."


Ayat ini menggambarkan betapa dahsyatnya ancaman riba terhadap tatanan masyarakat. Riba tidak hanya merusak ekonomi, tetapi juga menjadi alat dominasi untuk menindas pihak yang lemah, termasuk umat Islam di Gaza.


Namun, Allah juga memberikan harapan kepada kaum tertindas. Dalam Surat Al-Hajj Ayat 39-40, Allah mengizinkan perang bagi mereka yang dizalimi, dengan janji pertolongan-Nya:

"Dan sungguh, Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa."


Ayat ini menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan sistem yang menindas, termasuk riba, adalah bagian dari jihad menegakkan keadilan.


*Refleksi: Pertolongan Allah bagi Kaum Tertindas*


Dalam konteks perang dan ekonomi ribawi, refleksi yang mendalam adalah bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak hanya menolak riba, tetapi juga menyatakan perang terhadap pelaku riba. 


Hal ini menunjukkan posisi Islam yang sangat tegas terhadap ketidakadilan struktural yang diciptakan oleh sistem ribawi.


Konteks ini juga menegaskan bahwa pertolongan Allah bagi kaum tertindas tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga mencakup dukungan dalam perjuangan melawan struktur global yang menindas. 


Pertolongan ini diberikan kepada mereka yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip keadilan, menolak tunduk pada kezaliman, dan berjuang untuk membebaskan umat manusia dari belenggu riba.


Sebagaimana disebutkan dalam Surat An-Nur Ayat 55, Allah menjanjikan kemenangan kepada orang-orang beriman yang melakukan amal saleh, sehingga mereka dapat menggantikan sistem yang zalim dengan tatanan dunia yang adil:


"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi..."


Perjuangan ini menjadi relevan dalam konteks dunia saat ini, di mana sistem ekonomi ribawi telah menciptakan kesenjangan global yang ekstrem, mendanai perang, dan melanggengkan penindasan. 


Umat Islam dan kaum beriman diingatkan untuk bersatu melawan sistem ini, sebagaimana yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan sunnah, untuk menegakkan keadilan di muka bumi.


*Kesimpulan dan Implikasi*


Islam mengajarkan bahwa perang bukan tujuan, melainkan sarana terakhir untuk melawan kezaliman dan menegakkan keadilan. Perjuangan ini tidak hanya melibatkan perang fisik, tetapi juga perang melawan sistem yang menindas, seperti ekonomi ribawi.


Allah memberikan pertolongan kepada mereka yang berjuang dengan keimanan dan keadilan. Dalam konteks ini, umat Islam dipanggil untuk membebaskan dunia dari sistem yang menindas dan menggantinya dengan tatanan yang berlandaskan pada keadilan dan rahmat Allah. 


Dengan demikian, janji kemenangan Allah bagi kaum tertindas bukanlah utopia, melainkan sebuah kenyataan yang harus diperjuangkan dengan kesadaran, kesabaran, dan solidaritas.


Rujukan:

Syekh Imran Hosein, "Filosofi Perang dalam Islam": https://youtu.be/PCvh_GHTERo?si=ZYWDSmStzPpcmgAn


و

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pergantian yang pasti menanti

KEMBALI KE FITRAH PENDIDIKAN: AKAR PERENIAL PEDAGOGI KASIH SAYANG YANG TAK TERGANTIKAN

Menemani murid mengaji