Instropeksi diri
Maka tetapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Allah. Itulah agama yang lurus, letapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al-Rum/30: 30)
Alkisah, ketika seorang wanita pekerja seks pulang dari praktik, di tengah jalan dia menemukan seekor anjing yang tengah menjulurkan lidahnya karena kehausan. Dia berpikir sesaat apa yang harus dia lakukan untuk menolongnya. Tiba-tiba dia melihat sebuah sumur tua tidak jauh dari tempat dia berdiri. Dengan seutas tali dia mengikat? sepatunya untuk mengambil air dari dalam sumur itu dan kemudian diminumkan kepada anjing yang hampir mati kehausan tadi. Menurut sebuah hadits, karena perbuatannya menyayangi binatang itu, maka Allah berterima-kasih kepada pelacur tadi dan dia dijanjikan masuk surga.
Substansi cerita di atas yang sebenarnya sudah sangat klasik itu sungguh bertolak belakang dengan faham kebanyakan orang Islam, baik mengenai anjing maupun mengenai pelacur. Tak akan terbayangkan oleh orang Islam bagaimana seorang pelacur bisa masuk surga hanya karena menolong seekor anjing. Status pelacur itu saja sudah menjadi “kartu mati” bagi dia untuk mencium wangi surga, apatah lagi, sekadar menolong anjing, seekor binatang yang “citranya” bagi kebanyakan orang Islim tidak begitu baik. Persepsi kebanyakan orang Islim mengenai anjing bukanlah persepsi alami yang “bebas nilai” sebagaimana mereka mengenal binatang Jainnya seperti burung, ikan, serangga, dan sebagainya. Persepsi mereka adalah persepsi yang dibentuk oleh fiqh. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa bejana yang dijilat anjing tidak boleh digunakan lagi sebelum dicuci 7 kali dan salah satu kalinya dicuci dengan tanah. Kebanyakan orang Islam menjadikan hadits ini sebagai dasar untuk berpandangan bahwa hewan yang bernama anjing itu adalah najis mughallazbah, najis berat.
Tetapi, soalnya menjadi lain ketika yang najis itu berubah menjadi dibenci, sehingga muncul kesadaran psikologis bahwa binatang anjing itu tidak patut dikasihani. Orang Islam lebih akrab dengan unta, kambing, kerbau atau sapi, karena mereka adalah “hewan keagamaan”, dalam arti selalu mengingatkan kaum Muslimin kepada ritual semacam kurban, zakat, atau hari raya. Sementara itu hewan semacam anjing seperti halnya babi mengingatkan mereka pada larangan-larangan agama, sehingga efek psikologisnya adalah merasa jijik kepada hewan-hewan tersebut.
Dalam ilmu fiqh ada keterangan bahwa binatang buruan yang terlepas dan ditangkap oleh anjing, lalu anjing itu membawanya kepada si pemburu, meskipun dalam keadaan mati, maka binatang buruan itu halal dan tidak perlu disembah. Dalam Al-Qur’an juga terdapat keterangan mengenai kesetiaan anjing yang menemani 7 orang pemuda tidur di dalam gua (ashhabul kahfi) selama 300 tahun. Hal-hal semacam ini tidak muncul, minimal sebagai faktor pembanding sehingga perspektif fiqh tidak berat sebelah dan menyediakan ruang “bagi munculnya dominasi wacana. Yang lebih parah adalah ketika kita melihatnya dalam perspektif yang lebih makro. Orang Islim lazimnya melihat suatu persoalan melulu dari sudut pandang keagamaan, dan bukan kemaslahatan peradaban. Misalnya mereka mempelajari dan menguasai ilmu falak, perbintangan, dan kompas, maka tujuannya adalah untuk menghitung saat masuk bulan Ramadhan dan ‘Idul Fitri/’idul Adlha, serta mengukur posisi kiblat. Orang Barat mempelajari dan memanfaatkan ilmu itu untuk eksplorasi jalur-jalur perlintasan samudera dan mengembangkan industri kapal laut dan satelit.
Para aktivis lingkungan dan penyayang binatang di Amerika Serikat dan Inggris pernah melontarkan kritik yang tajam kepada kaum Muslim yang menurut mereka “haus darah binatang”. Rupanya mereka memandang Hari Raya Kurban (idul Adiha) umat Islam sebagai arena pembantaian binatang secara besar-besaran. Meski bagi orang Islim sendiri hal itu. sama sekali bukan tujuannya, tapi memang di kalangan Islim kurang terlihat isu-isu yang diusung berdasarkan concern kemanusiaan, yang dasarnya kalau mau dilacak justru ada di dalam doktrin agama. Alasannya karena itu tadi: concern orang Islam adalah pada keagamaan, bukan pada kemaslahatan kemanusiaan atau peradaban, seolah-olah agama diturunkan untuk kebutuhan Tuhan dan melayani Tuhan, bukan untuk kepentingan manusia.
Wacana tentang gerakan pelestarian lingkungan, perlindungan binatang, dan sebagainya, mestinya lahir dari kalangan Islam karena ajaran agama mereka dengan jelas menunjukkan hal tersebut. Islamlah yang mengajarkan bahwa menyayangi binatang itu mendapat pahala, bahkan bisa menyebabkan masuk surga, seperti kasus wanita pekerja seks tadi. Tidak lain karena menurut Al-Qur’an, binatang itu (baik yang melata di bumi maupun yang terbang di udara) adalah ? umat-umat seperti manusia juga (QS. 6: 38). Itulah sebabnya, mereka harus dihargai. Praktek ibadah haji merupakan momentum yang tepat untuk menumbuhkan kesadaran menyayangi binatang, Karena, dalam ibadah haji, para jamaah tidak boleh membunuh semut sekalipun. Kalau itu dilanggar maka sanksinya sangat berat.
Wacana dan gerakan kemanusiaan atas nama humanisme sekuler telah memarjinalkan peran dan penilaian oleh agama. Karena itu di Barat, jangankan WTS, kaum homo, lesbian, dan para waria sekalipun telah memiliki akses ke ruang publik, termasuk memperjuangkan hak-hak dan aspirasi mereka terlepas baik atau buruk menurut penilaian kaum agamawan. Dan mereka memang diberi hak untuk hidup, sepanjang mereka tidak merusak atau melanggar hak orang lain. Bandingkan dengan gerakan anti-kemaksiatan di sekitar kita. Karena himbauan bahwa sarana-sarana kemaksiatan (warung remang-remang, rumah hiburan, klub malam, dsb), harus ditutup sudah dianggap tidak lagi efektif, maka gerakan fisik menjadi pilihan. Ratusan rumah hiburan dihancurkan oleh mereka yang menamakan diri memperjuangkan agama Allih.
Seorang teman pernah mengomentari hal itu dengan ringan saja: “Di zaman sekarang jangankan rumah hiburan yang dianggap ajang maksiat, sedangkan rumah Tuhan saja Ibaca: masjid, gereja, dsb.l setiap hari dibakar dan dihancurkan.” Barangkali dia benar. Tapi soalnya bukan di situ. Soalnya adalah kita selalu gelap mata berhadapan dengan masalah-masalah kemanusiaan. Kita terbiasa melihat sesuatu secara hitam putih, sehingga sulit misalnya untuk memahami bagaimana seorang pelacur bisa masuk surga. Seorang pelacur adalah seorang pendosa, penghuni dunia gelap, perusak tatanan moral dan etika sosial, dan karena itu ia jelas merupakan musuh agama dan Tuhan. Maka sangatlah mustahil seorang pelacur bisa masuk surga, kecuali dia telah bertobat, dan diampuni oleh Tuhan.
Berikut adalah cerita yang lain tentang pelacur yang lain. Dalam cerita sufi dikatakan tentang seorang pelacur yang bertempat tinggal persis di depan seorang ustadz atau guru Agama. Setiap hari para santri dan guru tersebut selalu mengintip kegiatan wanita itu bergonta-ganti tamu, dan bersikap menjual kepada para tamunya. Kemudian mereka mengadukan perilaku wanita Itu kepada sang guru, supaya dinasihati dan dibimbing ke jalan yang benar, Mula-mula sang guru tidak bereaksi apa-apa, selain tetap mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang pelacur itu dari para santrinya. Namun demikian lama kelamaan dia merasa terpanggil juga untuk menegur si pelacur itu supaya menghentikan pekerjaannya yang amoral dan tidak halal itu. Maka dipanggillah wanita Itu dan diberi nasilhat panjang lebar seraya mengutip ajaran-ajaran agama.
Sambil menangis terisak-isak wanita itu menyesali perbuatannya. Menurutnya, hal itu dia lakukan dengan sangat terpaksa karena dia harus menanggung kehidupan keluarganya di desa yang telah ditinggal bapaknya. Dia pun berjanji akan mengikuti nasihat sang guru agama tadi dan mencari pekerjaan lain yang halal. Rupanya, satu-satunya pekerjaan yang dia mampu dapatkan adalah menjadi pembantu rumah tangga. Tapi itu ia jalani meskipun tidak sampai lama. Selang beberapa waktu dia kembali menerima tamu-tamu pria bergonta-ganti di tumahnya persis di depan kediaman sang ustadz. Mendapat laporan dari para santrinya bahwa si wanita itu tidak mengindahkan nasihatnya, dan kembali melacur, sang guru pun murka. Dipanggilnya lagi wanita itu. “Kamu memang tidak tahu diuntung, sudah mendapatkan pekerjaan yang halal malah memilih jadi pelacur,” umpat sang Guru. Si wanita itu bercerita bahwa ia terpaksa keluar dari pekerjaan sebagai pembantu karena dia diperkosa oleh majikannya. Tapi sang guru rupanya sudah menutup mata dan menimpakan semua kesalahan itu pada si wanita. “Pasti kamulah yang menggoda majikanmu itu. Dasar kamu ini sudah tidak berguna, cepat keluar kamu dari sini, aku sudah muak melihatmu,” umpat sang guru.
Hari demi hari kini sang guru punya kesibukan baru, yakni matanya selalu mengawasi rumah si wanita pelacur itu, seraya menghitung berapa tamu yang datang setiap harinya, pria dari kalangan mana saja, kendaraannya apa, berapa kira-kira mereka membayar si wanita Itu setiap kali kunjungan, ….. dst. Jengah dengan pemandangan yang selalu buruk itu, dia pun kembali memanggil si pelacur melalui santrinya. Kali ini dia tidak lagi berbasi-basi dengan petuah-petuah agama. Kamu ini benar-benar tidak mempan dengan nasihat. Ketahuilah bahwa kamu kelak akan dipanggang di neraka jahanam,” sergah sang guru. Wanita itu tersentak dan gemetar ketakutan. Air matanya tumpah, dan sambil terisak dia pergi meninggalkan sang guru yang tengah berang.
Singkat cerita, kedua orang itu pada saatnya meninggal dunia Menurut versi cerita tadi tadi sang guru agama masuk ke neraka dan si wanita pelacur tadi masuk surga. Sehingga proteslah sang guru kepada para Malaikat, “Kalian pasti salah, lihat saja jasadku begitu dihormati, orang-orang terhormat datang melayat, dan aku disernbahyangkan oleh banyak orang”. Tetapi, setelah dicek kembali keabsahan data amal-perbuatan orang-orang yang telah meninggal dunia, ternyata sama sekali tidak ada kesalahan. Sesaat kemudian Malaikat itu berkata kepada sang guru: “Jasad Anda baik karera dipergunakan untuk hal-hal yang baik seperti tangan, kaki, dan mulut yang digunakan untuk mengajari orang lain mengenai kebaikan dan kebenaran. Karena itu, jasad Anda diperlakukan secara baik, dilayat oleh orang-orang terhormat, dan disembahyangkan oleh banyak orang. Tetapi, roti Anda bermasalah. Pikiran Anda selalu mengenai kejelekan-kejelekan orang lain, tidak pernah tenang dengan tindakan orang lain, sementara itu Anda pun tidak pernah berintropeksi. Karena itu, roh Anda harus dicuci dulu di neraka. Sementara itu si pelacur sebaliknya. Dia selalu meratapi kesalahan-kesalahannya, menangis dan menyesali perbuatannya, dia selalu introspeksi, dan tidak pernah melihat Kejelekan-kejelekan orang lain. Jasadnya yang dia pergunakan untuk berbuat maksiat telah menanggung akibatnya. Tidak ada yang mau mengurus jenazahnya. Mungkin hanya akan membusuk di rumah kosong tanpa ada yang mau peduli, Tetapi rolnya masuk surya karena bersih,”
Teklepas dari Anda percaya atau tidak, dan setuju atau tidak dengan kisah di atas, yang jelas ada moral cerita yang bisa ditelusuri di dalamnya. Si wanita pelacur yang tidak punya waktu untuk melihat-lihat, apalagi mengungkit-ungkit, kejelekan orang lain, adalah karena dia disibukkan oleh keburukannya sendiri, sehingga itu membuatnya rajin berintrospeksi. Sebaliknya sang guru yang merasa sudah benar dengan sendirinya hanya punya waktu untuk mengintai kejelekan orang, tidak punya waktu untuk melakukan introspeksi. Nah, introspeksi itulah sebenarnya kata kuncinya.
Orang Islam pada umumnya akrab dengan istilah uzlah (mengasingkan diri untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT). Esensi dari uzlah itu sesungguhnya tidak lain adalah untuk melakukan introspeksi. Dalam berintrospeksi orang akan bertanya: siapa sesungguhnya dia, apa tujuan hidupnya, apa yang telah dilakukannya, dan sejumput pertanyaan lainnya yang mungkin tidak akan terungkapkan dalam momen-momen biasa. Imam Al-Ghazali menganjurkan orang Islam untuk ber-uzlah. sebagai suatu cara atau metode untuk melepaskan diri dari keterlibatan sehari-hari, supaya bisa melihat keadaan secara lebih obyektif. Hal ini penting karena kita biasanya didiktekan oleh lingkungan, oleh situasi, sehingga seringkali penilaian atau konsep kita mengenai baik dan buruk pun terjangkit oleh Subyektivitas individual. Dalam banyak hal, oranglain terkadang menjadi kurban dari penilaian kita yang ternyata subyektif itu.
Uzlah adalah religious moment di mana orang memikirkan tentang kemungkinan dirinya salah, bukan hanya kepada Tuhan, tapi juga kepada orang lain, diri sendiri, alam sekitar, dengan cara berbeda, karena dituntun oleh kebeningan nurani dan kejujuran mata hati. Dulu kaum Muktazilah dikecam karena berpandangan bahwa akal manusia dapat mengetahui kebaikan dan keburukan tanpa harus bergantung kepada petunjuk wahyu. Sementara itu, kalangan spiritualis merasa cukup berpegang pada hati nurani untuk menilai sesuatu baik atau buruk, benaratau salah, tanpa harus berpegang pada doktrin (lembaga) agama yang mereka pandang terlalu “otoriter” (baca: cenderung memaksakan kehendaknya tanpa kompromi kepada manusia).
Masalahnya, baik akal maupun hati nurani di zaman sekarang ini mudah sekali terkontaminasi oleh virus jahat sehingga dia sendiri tidak akan menghasilkan penilaian yang obyektif tentang baik dan buruk, serta benar dan salah. Semua bidang kehidupan di zaman kini tengah mengalami krisis, akibatnya kita pun tidak mudah percaya kepada logika atau rasionalitas. Sebab, keduanya juga pasti terkena krisis. Agama sebagai sumber moral dan pedoman untuk bertindak pun kini tidak luput dari krisis. Lihatlah, para pemeluk agama satu sama lain saling berperang dan membunuh, sambil sama-sama mengatasnamakan Tuhan. Persoalan demi persoalan bertumpuk-tumpuk dan nyaris tak ada penyelesaian. Rakyat berharap kepada pemerintah untuk segera membawa mereka keluar dari krisis. Tetapi, pemerintah sendiri seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan. Semua tokoh kunci di negeri ini sudah berbicara dan menyampaikan pikiran-pikiran mereka. Namun, mereka tetap seperti kehabisan akal untuk menyelesaikan masalah-masalah yang membelit kita. Apakah gerangan yang tengah terjadi? ,
Dulu, setiap nabi dilahirkan di dalam krisis dan mereka diberi tugas untuk menyelamatkan manusia dan peradabannya. Kini, kita tidak bisa lagi berharap kepada nabi. Dulu agama juga berperan besar, bahkan mungkin satu-satunya actor dalam menyelamatkan manusia dari krisis, tetapi kini “agama” rupanya telah kehilangan elan vital dan daya terobosnya. Alih-alih, kini “agama” sendiri malah mengidap problem yang harus ditangani secara sungguh-sungguh. Agama yang dulu dibawa oleh para nabi dan Rasul Allah barangkali memang telah sirna, yang ada kini hanya sesuatu yang dikira agama. Sesuatu itu bisa merupakan hasil ciptaan dan imajinasi kita sendiri, tapi bisa juga nilai-nilai warisan masa lalu yang sudah tercampur dengan mitos, khayalan sosial, dan imajinasi para tokoh sejarah, individual maupun kolektif. Kita bukan memeluk agama Islam, dan Anda bukan memeluk agama Kristen atau Budha atau Hindu. Yang kita peluk adalah semacam agama, tapi bukan dia. Agama telah hilang, dan karena itu harus dicari dan ditemukan kembali. Agama yang kita maksud adalah spirit pembebas manusia dari keterbelengguan situasi dan dikte historis.
Salah satu hikmah dari krisis multidimensional yang menimpa bangsa kita adalah bahwa kita sungguh-sungguh merasa kehilangan “agama otentik”. Krisis telah membuka mata kita bahwa selama ini ternyata kita tidak cukup relijius. Sebagai bangsa yang beriman kita ditantang untuk mengedepankan perspektif keimanan kita di hadapan kebangkrutan sistem sosial, politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain, yang kita warisi maupun yang kita ciptakan sendiri. Ini adalah semacam pertanggungjawaban moral etis dan teologis kita di hadapan Sang Pencipta. Dengan begitu, kita semua mengemban tugas untuk menemukan kembali spirit agama otentik yang penuh dinamika, elan vital, dan energi pembebasan. Hanya dengan begitu kita bisa memberi makna kepada krisis ini dan menjadikannya sebagai religious moment yang penting untuk bukan saja bangkit dari krisis itu sendiri, tapi juga membangun peradaban yang benar-benar baru. Wallahu alam.
Oleh : Komaruddin Hidayat
Dikutip dari Buku Agama di Tengah Kemelut
Komentar