QS. Al Baqoroh : 148
*TAFSIR AT TANWIR DIKELOLA OLEH MUHAMMADIYAH*
QS. Al Baqarah 148 :
وَلِكُلٍّ وِجۡهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ۚ أَيۡنَ مَا تَكُونُواْ يَأۡتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ قَدِيرٞ
_"Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."_
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 148)
*Tafsir Q.S. Al-Baqarah Ayat 148 dan Hubungan Toleransi Beragama*
Tanpa disadari Al-Qur’an tidak lagi menjadi petunjuk yang diikuti oleh kebanyakan umat manusia. Padahal sebagai umat Islam, Al-Qur’an dipercaya sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Hubungan di dalamnya terdapat banyak pelajaran, hukum serta kisah para Nabi yang dijadikan sebagai petunjuk dan pelajaran.
Al-Qur’an diyakini sebagai mukjizat yang begitu besar, al-Qur’an yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad untuk dijadikan sebagai petunjuk bagi seluruh alam.
Al-Ghazali mendefinisikan Al-Quran sebagai kalam atau perkataan yang wujud dari Allah Swt dan bukan merupakan sebuah mahkluk, sebagaimana di zamannya banyak di pertentangkan persoalan ini. menurut sebagai uama fiqih, Al-Qur’an sebagai mukjizat Allah yang berbentuk kalam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang didalamnya terdapat banyak pahala.
Toleransi dalam Al-Qur’an
Dari berbagai pandangan tentang tafsir Al-Qur’an, tidak jarang kita menemukan banyak perbedaan yang berakibat kepada terjadinya taqlid dan merasa paling benar atas penafsirannya. Perbedaan terhadap pandangan tersebut, akhirnya berdampak buruk terhadap kehidupan sosial beragama kita saat ini.
Banyak penelitian yang telah membicarakan mengenai penafsiran Al-Qur’an yang kaku, dan berdampak kepada pertikaian antar anak bangsa. Contoh yang terjadi kasus mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Thaja Purnama (Ahok), penggunaan kata kafir dan sebagainya.
Hal demikan terjadi berdasarkan banyaknya ragam penafsiran terhadap Al-Qur’an.
Hal demikian senada apa yang dijelaskan oleh Muhammad Rizki Anshar dan Muhammad Rifki dalam penelitian bahwa tafsir seyogyanya dipandang sebagai hubungan dialektika antar mufassir, yaitu hubungan Al-Qur’an dan realitas yang terus berubah. Maka dari hubungan tersebut dibutuhkan penafsiran yang terus menerus sampai mencapai pada sasarannya.
Dari pandangan tersebut, dapat kita ambil satu kesimpulan bahwa, tidak ada tafsir yang menghasilkan temuan yang bersifat mutlak, sebab menurut Nash Hamid Abu Zaid dalam menafsirkan atas berbagai problem kemanusiaan dapat menyimpulkan kekeliriuan dalam menggali petunjuk Al-Qur’an. Untuk mendapatkan penafsiran yang pas maka dapat dilihat bagaimana kondisi dan keadaan masyarakat itu.
Sehingga dari berbagai tafsir yang dianggap kaku itu, berakibat fatal terhadap keberlangsungan hidup pluralism (toleransi) terhadap umat beragama yang lain. Hal demikian sebagaimana banyak kasus-kasus yang terjadi yang telah menimpah kehidupan sosial umat beragama.
Sejatinya agama hadir ialah sebagai petunjuk untuk senantiasa merawat kemajemukan. Sebagaimana yang dikatakan Muhammad Hatta bahwa agama memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang mana konsekuensinya para pemeluknya diperintahkan untuk menjujung tinggi nilai-nilai tersebut.
Sebab apapun agama dan cara mereka mendapatkan keyakinan akan Tuhan, kelak nanti Allah Swt akan mengumpulkan semua manusia pada satu titik, yaitu alam kematian atau ahri pembalasan (yaumul hisab).
Agama apapun itu, pasti umatnya hanya diperintahkan untuk senantiasa berbuat kebaikan dan menjaga keberlangsungan hidup hajat orag banyak.
Dalam Al-Qur’an Allah Swt telah banyak menyinggung bagaimana kehidupan beragama dan hidup berdampingan dengan banyak kalangan. Salah satu ayat yang saya anggap sebagai anjuran untuk senantiasa berbuat kebaikan dan menghargai atas berbagai keyakinan umat ialah pada Q.S. Al-Baqarah [1]148 sebagai berikut:
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَمَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Terjemahan: “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”.
Perintah Toleransi Dengan Berlomba-lomba Dalam Kebaikan
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa setiap umat memiliki kiblat masng-masing dalam menjalankan ibadah atas keyakinannya. Dijelaskan bahwa kaum Nasrani, Yahudi dan Majusi memiliki kiblat masing-masing, begitupun umat Islam saat itu sebelum turun ayat ini menghadapkan kiblat ke masjidil Aqsa.
Al-Aufi yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas megatakan bahwa setiap pemuluk agama memiliki kiblatnya sendiri. Bahkan kabilah-kabilahpun memiliki tujuan dan arahnya sendiri-sendiri.
Dalam tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka mengatakan bahwa, persoalan kiblat bukannlah hal yang pokok dalam ayat tersebut. menurutnya arah timur dan barat merupakan hal yang sama tanpa ada perbedaan. Sehingga yang perlu dijadikan sebagai hal yang mendasar ialah, bagaimana hubungan hati yang dihadapkan langsung kepada Allah Swt itulah tujuan yang sebenarnya (Tafsir Al-Azhar, Jilid I, Hal. 341).
Ayat diatas telah mengariskan batas dimana manusia atau umat beragama saat ini tidak lagi terkotakkan karena persoalan keyakinan dan sebagainya. Namun bagaimana perbedaan tersebut menjadikan umat beragama semakin saling mencintai atas dasar kemanusiaan. Itulah Buya Hamka menekankan pada tafsirnya bahwa berlomba-lomba dalam kebaikan, jangan berlarut-larut dengan perkara keyakinan. Tidak boleh ada paksaan untuk mengikuti keyakinan dan kebenaran yang dianggap hanya milik segelitir golongan dan kelompok.
Menurut Abdul Munir Mulkhan dalam bukunya “Teologi Kiri” agama tidak boleh menjadi sebuah institusi yang elitis, hanya mengurusi persoalan teologi yang kaku. Justru itu, nilai-nilai ketuhanan dalam agama dijadikan sebagai gerakan nilai dalam kehidupan (Mulkhan, Teologi Kiri, Hal. 126). Penekanan pada ayat ini berada pada bagaimana semua manusia, apapun kiblat dan keyakinannya, memiliki tugas untuk selalu berbuat kebaikan dimanapun berada. Dengan itu, kita akan meminimalisir berbagai persoalan yang menimpa kehidupan beragama saat ini.
Buya Hamka mengatakan satu kalimat yang saya anggap meupakan poin inti dari ayat ini ialah ayat yang di wahyuan kepada Nabi Muhammad ini adalah ayat yang seruannya merata kepada seluruh umat manusia. Seruan damai dari wahyu kedalam masyarakat manusia berbagai agama (Tafsir Al-Azhar, Jilid I, Hal. 341).
Maka dari itu, dengan perlombaan berbuat kebaikan itu Allah akan memberkan hidayahnya agar kamu berhenti demi sedikit atas pengaruh hawa nafsu dan kepentingan golongan dan Kembali kepada kebenrana yang sesungguhnya.
Komentar