SYAFAAT DI AKHIRAT
TAFSIR AL QUR’AN EPS. 20
📖 *QS. al-Baqarah/2: Ayat 47 - 48*
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩
🌺📚*SYAFAAT DI AKHIRAT*
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (47) وَاتَّقُوا يَوْمًا لَّا تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ (48) [البقرة : 47-48]
*TERJEMAH*
_(47) Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini (pada masa itu). (48) Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) seorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun. Sedangkan syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan ditolong._
*KOSAKATA:* _Syafa‘at_ شَفَاعَةٌ (al-Baqarah/2: 48)
_Syafa‘at_ adalah memberikan bantuan atau meminta seseorang untuk memberikan bantuan kepada orang lain di depan Allah. Kata itu secara harfiyah berarti “genap”, yaitu bahwa seorang hamba dalam menghadap Allah untuk memohon penghapusan atau keringanan hukuman atas dosanya bisa dibantu orang lain dengan syarat orang yang diberi bantuan adalah orang yang diberikan izin oleh Allah dan yang memberi syafaat adalah orang-orang yang diridai oleh Allah. Menurut Al-Qur′an yang diberi hak untuk mengajukan permohonan itu hanyalah nabi-nabi, terutama Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam. (Saba′/34: 23 dan al-Anbiya′/21: 28), dan malaikat (an-Najm/53: 26) dan orang-orang saleh. Golongan Mu‘tazilah menolak adanya syafaat itu berdasarkan antara lain al-Baqarah/2:48 yang meniadakan segala bentuk syafaat, sesuai keumuman (nakirah/indefinite) kata syafaat dalam ayat itu, dan bagi orang berdosa besar sesuai surah al-Mu′min/40: 18. Ahlusunah mempercayai adanya syafaat karena adanya beberapa ayat dan hadis yang menyatakan demikian.
*MUNASABAH*
Pada ayat 40 yang lalu Allah memperingatkan Bani Israil kepada nikmat yang telah dilimpahkan kepada mereka dan nenek moyang mereka. Allah memerintahkan agar mereka memenuhi janji kepada-Nya. Pada ayat 47 ini Allah, kembali mengingatkan mereka kepada nikmat-Nya itu. Kemudian pada ayat berikutnya Dia memberikan peringatan dan ancaman kepada mereka tentang azab-Nya di hari kiamat nanti.
🌺📖 *TAFSIR*
(47) Allah telah melebihkan Bani Israil dari bangsa-bangsa lain yang pada masa itu telah mempunyai peradaban dan kebudayaan yang tinggi, misalnya bangsa Mesir dan penduduk tanah suci Palestina. Allah kembali memanggil mereka pada permulaan ayat ini dengan menyebut nama nenek moyang mereka “Israil”, ialah Nabi Yakub a.s. karena dialah yang menjadi asal kebangsaan, dan sumber kemuliaan mereka. Nikmat yang telah dilimpahkan kepadanya dapat dinikmati oleh mereka semuanya.
Kelebihan yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka dahulunya adalah karena nenek moyang mereka sangat berpegang teguh kepada sifat-sifat yang mulia, dan menjauhi sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan jelek, karena setiap orang yang mulia dan diutamakan dari orang-orang lain tentu ingin menjaga kehormatan itu, sehingga ia menjauhi sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan yang hina.
Bani Israil yang ada pada masa turunnya ayat ini telah jauh menyimpang dari sifat-sifat mulia yang dipegang teguh oleh nenek moyang mereka. Oleh karena itu, Allah memperingatkan mereka kepada nikmat dan keutamaan yang telah diberikan itu untuk menyadarkan mereka bahwa Allah yang telah memberikan kelebihan kepada mereka tentu berhak pula suatu ketika untuk memberikannya kepada orang lain, misalnya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam dan umatnya. Bani Israil itu sepatutnya lebih memperhatikan ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam. Seseorang yang diberi kelebihan sepatutnya lebih dahulu berbuat keutamaan daripada orang lain. Apabila keutamaan yang diberikan kepada Bani Israil itu disebabkan karena banyaknya para nabi dipilih dari kalangan mereka, maka hal itu tidaklah menjamin bahwa setiap pribadi dari Bani Israil itu lebih utama dari orang yang berada di luar lingkungan mereka. Bahkan ada kemungkinan bahwa orang lain lebih mulia dari mereka apabila mereka sendiri telah meninggalkan sunah dan ajaran-ajaran nabi-nabi mereka. Sementara orang lain menjadikannya petunjuk dan pedoman hidup mereka dengan sebaik-baiknya.
Apabila keutamaan mereka itu disebabkan kedekatan mereka kepada Allah, bahkan mereka pernah menganggap dirinya sebagai _sya‘bullah al-mukhtar_, karena mereka dulunya mengikuti syariat-Nya, maka hal itu hanya berlaku pada diri nabi-nabi bersama orang-orang yang menjalankan syariat-syariatnya tanpa menyimpang dari ajaran-ajaran tersebut, dan tetap berjalan pada jalan yang benar, sehingga mereka berhak menerima kelebihan dan keutamaan itu. Tetapi mereka yang sudah meninggalkan ajaran-ajaran para nabi tentu tidak dapat lagi dipandang sebagai “orang-orang yang dekat” kepada Allah.
(48) Allah memperingatkan kepada Bani Israil yang ada pada waktu turunnya ayat ini, agar mereka kembali ke jalan yang benar, mengikuti agama Allah, yang telah disempurnakan dengan wahyu-wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam. Dengan jalan itu mereka dapat menjaga diri mereka dari azab hari Kiamat, yang tak akan dapat dibendung oleh siapa pun juga, tak seorang pun dapat menyelamatkan diri dari padanya kecuali orang-orang yang beriman dan bertakwa serta mengikuti syariat dan petunjuk-petunjuk Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa pada hari Kiamat nanti tak seorang pun dapat memberikan pertolongan kepada orang lain agar terbebas dari azab-Nya, dan setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing. Seseorang tidak dapat memikul dosa orang lain, walaupun dia bersedia. Hal ini merupakan ketegasan dari Allah atas ketidakbenaran anggapan mereka bahwa berdasarkan keutamaan yang ada pada mereka, mereka akan
memperoleh syafaat. Padahal anggapan itu tidak benar, karena orang-orang yang berimanlah yang akan memperoleh syafaat dari Allah.
Syafaat ialah pertolongan yang diberikan oleh rasul atau orang-orang tertentu untuk meringankan azab atau beban seseorang di akhirat, atas izin Allah. Dalam hubungan ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
…وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ …[الأنعام : 164]
_Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain_. (al-An‘am/6:164)
… وَإِن تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَىٰ حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۗ إِنَّمَا… [فاطر : 18]
_Dan jika seseorang yang dibebani berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu, tidak akan dipikulkan untuknya sedikit pun, meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya_. (Fatir/35:18)
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37) [عبس : 34-37]
_Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya_. (‘Abasa/80:34-37)
Walau peringatan ini ditujukan kepada Bani Israil, namun berlaku juga bagi umat Islam, agar mereka selama hidup di dunia berusaha mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, agar kelak pada hari Kiamat terhindar dari azab Allah. Caranya ialah dengan mengikuti petunjuk- petunjuk Allah dan melaksanakan syariat-syariat-Nya.
*KESIMPULAN*
1. Allah telah memberikan nikmat yang banyak dan keutamaan kepada Bani Israil, tetapi keturunan mereka kemudian melupakan nikmat tersebut.
2. Pada hari kiamat nanti, setiap orang bertanggung jawab terhadap perbuatannya masing-masing. Tak ada pertolongan dari orang lain, dan tidak akan diterima tebusan dan sebagainya. Hanya keimanan, ketakwaan dan amal saleh yang dapat menyelamatkannya dari azab Kiamat. Sedangkan syafaat (pertolongan) yang diberikan oleh para malaikat, nabi dan orang-orang saleh kepada sejumlah orang, dilakukan setelah adanya izin dari Allah.
_InsyaaAllah besuk di lanjutkan ke al-Baqarah/2: ayat 49 s/d 53 tentang_
*”PEMBEBASAN BANI ISRAIL DARI KEKEJAMAN FIR‘AUN”*
والله أعلم…
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
📝✍️ *Dinukil oleh: _Alfaqir ilallah Mangesti Waluyo Sedjati_*
📚 *REFERENSI :*
1. Al-Qur’an Dan Tafsirnya (Edisi
yang Disempurnakan) Juz 01,
Departemen Agama RI,
diterbitkan oleh: Penerbit Lentera
Abadi, Jakarta, Dicetak oleh:
Percetakan Ikrar Mandiriabadi,
Jakarta, 2010
2. 📚📖 Aplikasi Quran Word by Word
——
*_#Pastikan Patuhi Protokol Kesehatan_*
•┈•┈•┈•┈•┈•┈••○❁🌻💠🌻❁○••┈•┈•┈•┈•┈•┈•
🌐 *Ikuti Sosial Media Kajian BAIZ :*
🔹 *Facebook*
www.facebook.com/kajianbaiz
🔹 *Instagram*
www.instagram.com/kajianbaiz
🔹 *WhatsApp :* bit.ly/3oJu311
🔹 *Chanel Telegram :* bit.ly/3BVMR20
📡 Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.
•┈•┈•┈•┈•┈•┈••○❁🌻💠🌻❁○••┈•┈•┈•┈•┈•┈•
[20/5 4.38 PM] +62 811-254-005: 🌺📚 *UNDANGAN KAJIAN TAFSIR AL-QUR’AN*
*(Kajian Baitul Izzah Eps. ke - 327)*
*Yth. Bapak/Ibu* yang di Rahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
_Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh_
Dengan mengharap ridho Allah Ta'alla, Kami mengundang Panjenengan semua untuk hadir pada acara *Kajian Rutin SABTU PAGI Mejelis Ilmu BAITUL IZZAH* secara *online via Zoom*.
Insya Allah diselenggarakan pada:
📆 | *Sabtu, 21 April 2022*
⏰ | *06:00- 07:30 WIB*
📚 | *"TAFSIR AL-QUR’AN”*
📖 | *Tafsir QS. Al-Isra’/17: ayat 55 s/d ayat 59*
👤 | *Ust. Prof. Dr. H. Roem Rowi, MA*
*_Profil Singkat:_*
1. Dosen & Guru Besar UINSA Sunan Ampel Surabaya
2. Alumni Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo (1967)
3. Alumni IAIN Ciputat, Jakarta (1967)
4. *S1 Universitas Islam Madinah* Saudi Arabia (1971)
5. *S2 Universitas Al-Azhar* Cairo Mesir (1973)
6. *S3 Universitas Al-Azhar* Cairo Mesir (1989)
*HOST:*
*Mangesti Waluyo Sedjati*
_[Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Pusat ; Wakil Ketua Umum Kadin Jatim ; Founder Yayasan Baitul Izzah ; Founder KBIHU/Travel Umroh ; Founder Ponpes Tahfidz Quran ; Pembimbing Haji & Umroh]_
🐠🐟🐡🐠🐟🐡🐠🐟🐡🐠🐟🐡🐟 🐡🐟 🐟 🐡
▶️ *Klik Link Zoom Meeting*
https://us02web.zoom.us/j/6948423396?pwd=Y1J5d2ZZcnlUZTdLMU9PU1Fyd1NUQT09
*Meeting ID:* 694 842 3396
*Password:* 517404
▶️ *Gabung WAG*
http://bit.ly/3oJu311
▶️ *Gabung Telegram*
https://t.me/kajianBaitulIzzah
⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ ⭐️ ⭐️ ⭐️⭐️
*SIAPKAN INFAQ TERBAIKMU UNTUK DAKWAH DIGITAL KE REKENING;*
🏦 Bank Syariah Indonesia (BSI-BSM)
🏧 Rek. No. (451) 625 625 2226
🏢 *a/n. Yayasan Baitul Izzah Sidoarjo*
🤹♂️ *Konfirmasi Donasi & Info Kajian:*
wa.me/62811254005
*Mohon ditulis angka 5 pada digit terakhir infaq Bapak/Ibu.*
*Contoh : Rp.200.005*
*_Mohon Info Kajian rutin ini di SHARE dan Sebarluaskan ke Putra-Putrinya, kerabat dan sahabat-sahabat lainnya_*
_Barakallahu fiikum_
_Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh_
*Muhibbukum*
*1. Mangesti Waluyo Sedjati*
Hp/WA: 0818.9999.65
*2. dr. Ita Puspita Dewi, Sp.KK, FINSDV, FAADV.*
*3. BAITUL IZZAH OFFICIAL*
WA: 0811254005
♻️ *Note :*
1. *Join di ZOOM 15 menit sebelum Acara,,* 🌻
🐠🐟🐡🐠🐟🐡🐠🐟🐡🐠🐟🐡🐟 🐡
*Silahkan Putar Rekaman Pengajian* “TAFSIR AL-QUR’AN” ( 14 MEI 2022).*
Oleh: *Ust. Prof. Dr. H. Roem Rowi, MA*
*Klik Link* (https://youtu.be/xoCQxcRMHkg)https://youtu.be/W7beGR_W2ic
*Tafsir QS. Al-Isra’/17: ayat 52 s/d 54*
🌐 *Ikuti Sosial Media Kajian BAIZ :*
🔹 *Facebook*
www.facebook.com/kajianbaiz
🔹 *Instagram*
www.instagram.com/kajianbaiz
🔹 *WhatsApp :* bit.ly/3oJu311
🔹 *Chanel Telegram :* bit.ly/3BVMR20
📡 *Raih amal sholih dengan LIKE, SHARE, SUBSCRIBE dan klik tombol “🔔” (loncengnya) serta Comment agar sama-sama mendapatkan keberkahan.*
Jazakallahu Khairan Katsiran.
•┈•┈•┈•┈•┈•┈••○❁🌻💠🌻❁○••┈•┈•┈•┈•┈•┈•
[21/5 9.35 AM] +62 811-254-005: 📚 *TAFSIR AL QUR’AN EPS. 21*
📖 *QS. al-Baqarah/2: Ayat 49 - 53*
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩
*Yth. Bapak/Ibu* yang InsyaaAllah selalu di Rahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
_Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh_
Kita lanjutkan ke Episode ke-21….yuk😍💕
Yaa Allah,,, beri kami kepahaman kepada Agama kami, beri kami Ilmu nya Al-Qur’an ,,,, Aamiin 🤲.
🌺📚*PEMBEBASAN BANI ISRAIL DARI KEKEJAMAN FIR‘AUN*
وَإِذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ (49) وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ (50) وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ (51) ثُمَّ عَفَوْنَا عَنكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (52)[البقرة : 49-52]
*TERJEMAH*
_(49) Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu. (50) Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedang kamu menyaksikan. (51) Dan (ingatlah) ketika Kami menjanjikan kepada Musa empat puluh malam. Kemudian kamu (Bani Israil) menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan) setelah (kepergian)nya, dan kamu (menjadi) orang yang zalim. (52) Kemudian Kami memaafkan kamu setelah itu, agar kamu bersyukur. (53) Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan kepada Musa Kitab dan Furqan, agar kamu memperoleh petunjuk._
*KOSAKATA:* _Fir‘aun_ فِرْعَوْنَ (al-Baqarah/2: 49)
*_Fir‘aun_ adalah gelar raja-raja Mesir* sebelum Islam, sebagaimana orang- orang Arab menyebut gelar *_Kisra_ untuk raja-raja Persia* dan *_Kaisar_ untuk raja-raja Romawi*. Secara harfiah kata itu berarti *_“tiran yang kejam”._* Menurut catatan sejarah, _Fir‘aun pada masa Nabi Musa adalah *Mineptah (1232-1224 SM)* anak Ramses II_. Ketiraniannya dilukiskan Al-Qur'an, _“Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku? Apakah kamu tidak melihat?”_ (az- Zukhruf/43: 51). Kekejamannya adalah bahwa ia sering menyembelih anak-anak laki-laki Bani Israil dan membiarkan hidup anak-anak perempuan (al-Baqarah/2: 49). Tidak hanya demikian, Fir‘aun bahkan menganggap dirinya Tuhan (al-Qasas/28: 38). Dalam ayat itu juga diceritakan bagaimana pembantunya yang setia, Haman, diperintahkannya untuk membangun menara yang menjulang ke angkasa untuk melihat Tuhan yang disembah Musa. Al-Qur′an juga mengisahkan (Yunus/10: 90-92) bahwa untuk menyelamatkan diri dari kekejaman Fir‘aun, Nabi Musa a.s. memimpin pelarian Bani Israil keluar dari Mesir, tetapi Fir‘aun dan pasukannya mengejar mereka. Ketika mereka terdesak tidak mungkin menyeberangi Laut Merah, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut itu. Laut terbelah, Bani Israil selamat sampai ke seberang, sedangkan Fir‘aun dan pasukannya yang mengejar mereka tenggelam di dalam laut, karena laut itu dipertautkan kembali oleh Allah. Di tengah upaya menyelamatkan diri agar tidak tenggelam dalam air itulah Fir‘aun menyatakan imannya, “Saya beriman bahwa tiada tuhan selain Tuhan yang diimani Bani Israil.” Tetapi iman dalam keadaan terdesak seperti itu tidak diterima oleh Allah. “Mengapa baru sekarang, sedangkan engkau amat durhaka sebelumnya dan termasuk orang yang melakukan kerusakan?” jawab Allah. Tubuh Fir‘aun diselamatkan oleh Allah untuk menjadi bukti bagi generasi selanjutnya bahwa Allah Mahakuasa, dan bahwa mereka yang membangkang, bagaimanapun kuasanya, akan mengalami nasib yang tragis di akhir hayatnya.
*MUNASABAH*
Pada ayat-ayat yang lalu Allah mengingatkan Bani Israil kepada nikmat- Nya dan kelebihan yang diberikan kepada mereka dibanding umat-umat yang lain. Pada ayat-ayat berikutnya disebutkan kembali nikmat-nikmat yang diberikan kepada mereka.
🌺📖 *TAFSIR*
(49) Peringatan lain kepada Bani Israil tentang nikmat Allah yang lain, yaitu mereka telah diselamatkan dari kesengsaraan yang mereka alami, akibat kekejaman Fir‘aun, raja Mesir, pada waktu Bani Israil bertempat tinggal di sana. Orang pertama dari kalangan Bani Israil yang masuk ke Mesir ialah Nabi Yusuf. Kemudian saudara-saudaranya datang pula ke sana dan tinggal bersamanya. Selanjutnya, mereka berkembang biak di sana, sehingga dalam masa + 400 tahun (dari masa Nabi Yusuf sampai dengan Nabi Musa) jumlah mereka telah mencapai ratusan ribu orang. Penduduk asli semakin terdesak, karena Bani Israil itu giat bekerja dan memiliki pikiran yang lebih cerdas. Di samping itu, mereka sangat mementingkan diri sendiri, karena mereka masih tetap menganggap diri mereka sebagai *_sya‘bullah al-mukhtar._* Sebab itu, mereka tidak mau bersatu dengan penduduk asli, dan tidak mau bekerja sama dan membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Melihat keadaan yang demikian, penduduk asli negeri itu semakin khawatir, sebab apabila Bani Israil itu semakin banyak jumlahnya, maka mereka akan menguasai keadaan dan penduduk asli akan semakin terdesak. Oleh sebab itu, mereka berusaha untuk melemahkan kekuatan Bani Israil. Mula-mula dengan mewajibkan kerja paksa kepada mereka. Kemudian semakin meningkat dengan pembunuhan anak-anak lelaki mereka, dan hanya anak-anak perempuan mereka yang dibiarkan hidup. Sekitar peristiwa ini bandingkan dengan Kitab Keluaran i.16 ; perintah Fir‘aun kepada para bidan. Penyiksaan dan penderitaan Bani Israil tergambar dalam Keluaran i.22, dan pada beberapa bagian lagi dalam Perjanjian Lama. Fir‘aun memerintahkan kepada setiap suku rakyatnya untuk membunuh setiap lelaki Bani Israil, walaupun anak-anak kecil mereka.
Penderitaan yang dialami Bani Israil itu merupakan ujian bagi mereka karena mereka telah melupakan nikmat-Nya dan telah melakukan bermacam-macam dosa. Kemudian Allah swt mengampuni dan menerima tobat mereka, dan dikaruniakan-Nya pula nikmat yang besar, yaitu diselamatkan dari kesengsaraan yang mereka alami dari kekejaman Fir‘aun. Tetapi rahmat ini pun merupakan ujian bagi mereka, apakah nantinya mereka akan mensyukuri nikmat itu, atau tidak.
Umat Islam dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga dari kisah Bani Israil itu. Allah swt, mula-mula telah melimpahkan bermacam-macam nikmat-Nya kepada umat Islam, sehingga umat telah bersatu di bawah panji- panji Islam dan hidup dalam persaudaraan yang kukuh, serta berhasil membangun negara Islam yang kuat. Tetapi kemudian terjadilah perpecahan di antara umat Islam, sehingga Allah swt mendatangkan malapetaka kepada mereka.
Khilafah Abbasiyah di Bagdad diruntuhkan oleh bangsa Tartar. Kemudian terjadi Perang Salib dalam waktu yang panjang sekitar 200 tahun. Sementara itu bangsa-bangsa barat menyusup ke negeri-negeri Islam, menguasai sumber-sumber kekayaan mereka sehingga umat Islam di mana- mana menjadi lemah.
(50) Dalam ayat ini disebutkan nikmat lain yang diberikan kepada Bani Israil, yaitu Allah telah menyelamatkan mereka ketika meninggalkan Mesir di bawah pimpinan Nabi Musa a.s. dari kejaran Fir‘aun bersama tentaranya.
Setelah Allah mengangkat Musa menjadi Rasul, Dia memerintahkan agar menyeru Fir‘aun dan kaumnya untuk beriman kepada-Nya, menuntut Fir‘aun agar membebaskan Bani Israil yang berada di negeri itu, dan menghentikan kekejaman yang dilakukan terhadap mereka. Sebagai jawabannya, Fir‘aun memperhebat siksaan dan kekejamannya terhadap Bani Israil dan memerintahkan rakyatnya untuk meningkatkan kerja paksa yang ditimpakan kepada mereka.
Kemudian Allah memberikan berbagai mukjizat kepada Musa a.s. dan saudaranya, Nabi Harun, antara lain tongkat Nabi Musa yang dapat berubah menjadi ular dan dapat menelan ular-ular yang dijelmakan oleh para pesihir yang dikerahkan Fir‘aun untuk melawan mukjizat Nabi Musa a.s.
Melihat kenyataan itu, para pesihir itu pun mengakui kekalahan mereka, lalu menyatakan beriman kepada Tuhan. Akhirnya Fir‘aun mengusir dan mengejar-ngejar mereka. Maka berangkatlah mereka meninggalkan negeri itu di bawah pimpinan Nabi Musa a.s., sedangkan Fir‘aun dan bala tentaranya mengejar mereka.
Ketika mereka sampai di tepi Laut Merah yang membatasi kota Suez dengan Semenanjung Sinai, Allah memerintahkan Nabi Musa agar memukulkan tongkatnya ke laut. Lalu Musa a.s. melakukannya. Maka terbelahlah air laut dan terbentanglah dua belas jalur jalan raya yang akan dilalui Nabi Musa a.s. bersama pengikut-pengikutnya yang terdiri dari dua belas rombongan, sehingga selamatlah mereka sampai ke seberang.
Sementara itu Fir‘aun bersama rombongannya terus mengejar mereka. Tetapi ketika mereka sampai di tengah-tengah laut itu, air laut kembali bertaut, sehingga mereka semuanya tenggelam ditelan air laut. Kejadian itu disaksikan oleh Bani Israil yang telah selamat sampai ke seberang.
Terbelahnya laut merupakan salah satu dari berbagai mukjizat Nabi Musa a.s. untuk membuktikan kepada manusia bahwa Allah adalah Mahakuasa. Dialah yang menciptakan alam ini dan Dia pula yang menetapkan undang-undang alam yang berlaku sepanjang masa, dan Dia berkuasa pula mengubah atau membatalkan undang-undang alam tersebut apabila dikehendaki-Nya.
Hukum alam yang berlaku pada air ialah bahwa air sebagai salah satu benda cair tidak dapat terpisah tanpa adanya benda lain yang memisahkannya. Undang-undang inilah yang diubah dan dibatalkan-Nya ketika terbelahnya air laut itu. Air laut tersibak dan berdiri seperti dinding- dinding yang tegak lurus tanpa ada sesuatu yang menahannya, sehingga terbentanglah jalan di antara dinding-dinding tersebut.
Demikian besarnya nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada Bani Israil. Mereka telah dibebaskan dari kekejaman Fir‘aun dan rakyatnya. Kemudian mereka diselamatkan pula ketika menyeberang laut. Sesudah itu mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri tenggelamnya musuh- musuh mereka di tengah laut yang tentu saja menggembirakan hati mereka. Sepatutnyalah mereka mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.
(51) Pada ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan mereka kepada nikmat yang lain sesudah nikmat-nikmat-Nya yang tersebut di atas, yaitu Allah menjanjikan kepada Musa a.s. akan memberikan Taurat kepadanya, dan Allah menentukan waktunya yaitu selama 40 malam. Mereka menganggap bahwa waktu yang ditetapkan itu terlalu lama maka mereka membuat patung anak sapi dari emas dan mereka sembah. Dengan demikian mereka telah menganiaya diri mereka sendiri karena perbuatan syirik yang mereka lakukan.
Sikap mereka itu sangat mengherankan, sebab janji Allah kepada Nabi Musa a.s. akan menurunkan Kitab Taurat sebenarnya merupakan nikmat dan keutamaan yang amat besar bagi Bani Israil, tetapi mereka balas dengan perbuatan yang amat keji, yaitu kekafiran dan kebodohan.
(52) Allah Maha Pengasih dan Maha Pengampun kepada hamba-Nya. Walaupun Bani Israil telah melakukan kekafiran dan kemusyrikan sedemikian rupa, namun Allah masih memberikan maaf dan ampunan kepada mereka, agar mereka mensyukuri-Nya. Allah tidak segera menimpakan azab kepada mereka melainkan ditangguhkan-Nya sampai datangnya Nabi Musa a.s. dan memberitahukan kepada mereka cara menebus dosa, agar selanjutnya mereka mensyukuri nikmat-Nya.
(53) Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan lagi kepada mereka tentang nikmat-Nya yang lain yaitu Kitab Taurat yang diturunkan kepada mereka sebagai bukti untuk menguatkan kerasulan Nabi Musa a.s. Kitab tersebut diturunkan kepada mereka melalui Nabi Musa a.s. untuk mereka jadikan petunjuk. Dengan memahami isinya serta mengamalkan syariat dan petunjuk-petunjuk yang terkandung di dalamnya, diharapkan mereka kembali menjadi orang baik-baik, dan tidak lagi terjerumus kepada kesesatan yang lain, misalnya menyembah patung-patung, dan sebagainya.
*KESIMPULAN*
1. Bani Israil telah menerima nikmat yang amat banyak dari Allah antara lain mereka diselamatkan dari kekejaman Fir‘aun, namun demikian mereka tidak mensyukuri, bahkan melupakan nikmat-nikmat tersebut, bahkan mereka balas dengan keingkaran dan kemusyrikan kepada-Nya.
2. Bani Israil telah ditimpa azab sengsara karena mereka tidak mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkannya kepada mereka.
3. Nikmat dan musibah merupakan ujian dari Allah terhadap hamba-hamba- Nya.
4. Ketika Musa a.s. meninggalkan mereka untuk menerima wahyu dari Allah selama 40 malam, berupa Kitab Taurat yang fungsinya diharapkan menjadi petunjuk, Bani Israil tidak sabar menunggu. Mereka justru mambuat patung anak sapi dan menyembahnya. Ini adalah salah satu dari kezaliman mereka.
5. Allah Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Dia memaafkan kesalahan hamba-Nya apabila benar-benar bertobat kepada-Nya dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.
_InsyaaAllah besuk di lanjutkan ke al-Baqarah/2: ayat 54 s/d 57 tentang_
*”KEDURHAKAAN BANI ISRAIL”*
والله أعلم…
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
📝✍️ *Dinukil oleh: _Alfaqir ilallah Mangesti Waluyo Sedjati_*
(Ketua KBIHU Baitul Izzah Sidoarjo)
📚 *REFERENSI :*
1. Al-Qur’an Dan Tafsirnya (Edisi
yang Disempurnakan) Juz 01,
Departemen Agama RI,
diterbitkan oleh: Penerbit Lentera
Abadi, Jakarta, Dicetak oleh:
Percetakan Ikrar Mandiriabadi,
Jakarta, 2010
2. 📚📖 Aplikasi Quran Word by Word
——
*_#Pastikan Patuhi Protokol Kesehatan_*
•┈•┈•┈•┈•┈•┈••○❁🌻💠🌻❁○••┈•┈•┈•┈•┈•┈•
🕌 *KBIHU & MAJELIS ILMU “BAITUL IZZAH” SIDOARJO*
*_“Mentradisikan hidup berdasarkan Al Qur'an dan As-Sunnah”_*
🌐 *Ikuti Sosial Media Kajian BAIZ :*
🔹 *WhatsApp :* bit.ly/3oJu311
🔹 *Chanel Telegram :* bit.ly/3BVMR20
🔹 *Facebook*
www.facebook.com/kajianbaiz
🔹 *Instagram*
www.instagram.com/kajianbaiz
📡 Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.
•┈•┈•┈•┈•┈•┈••○❁🌻💠🌻❁○••┈•┈•┈•┈•┈•┈•
[29/6 8.37 AM] +62 811-320-177: 📚 *TAFSIR AL QUR’AN EPS. 39*
📖 *QS. al-Baqarah/2: Ayat 114 s/d 117*
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩
*Yth. Bapak/Ibu [[fullname]]* yang InsyaaAllah selalu di Rahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
_Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh_
Yaa Allah,,, beri kami kepahaman kepada Agama kami, beri kami Ilmu nya Al-Qur’an ,,,,
“Ya Robbi,,,, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami”.
Aamiin 🤲.
Kita lanjutkan ke Episode ke-39 ….yuk😍💕
🌺📚 *TINDAKAN MENGHALANGI ORANG BERIBADAH*
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا ۚ أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (114) وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (115) وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ بَل لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ (116) بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ (117) [البقرة : 114-117]
*TERJEMAH*
_(114) Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya, dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan di dunia, dan di akhirat mendapat azab yang berat. (115) Dan milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (116) Dan mereka berkata, ”Allah mempunyai anak.” Mahasuci Allah, bahkan milik-Nyalah apa yang di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya. (117) (Allah) pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ”Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu_.
*KOSAKATA:* _al-Khizyu_ اَلْخِزْيٌ (al-Baqarah/2: 114)
_Al-Khizyu_ dari akar kata sinonim dengan kata takut, hina, dina dan sebagainya. Arti kata _al-khizyu_ (masdar) adalah sesuatu yang jelek yang tidak disukai pada diri seseorang apalagi kalau sempat terlihat oleh orang lain. Dalam ayat ini Allah mengancam orang-orang Yahudi yang akan merobohkan masjid-masjid di Medinah untuk memberi kehinaan kepada mereka di dunia sedangkan di akhirat mereka mendapatkan azab yang pedih.
*MUNASABAH*
Pada ayat-ayat sebelum ini diterangkan tentang anggapan orang Yahudi terhadap orang Nasrani dan sebaliknya. Maka ayat ini menerangkan tindakan yang paling zalim yang dilakukan oleh manusia, yaitu menghalangi orang melaksanakan ibadah, bahkan sampai menghancurkan tempat ibadahnya.
📚💕 *TAFSIR*
(114) Di antara tindakan orang yang paling zalim ialah:
1. Menghalang-halangi orang menyebut nama Allah di dalam masjid-masjid-Nya. Termasuk di dalamnya menghalang-halangi segala perbuatan yang berhubungan dengan urusan agama, seperti mempelajari dan mengamalkan agama, iktikaf12), salat, zikir dan sebagainya.
2. Merobohkan masjid-masjid Allah (tempat ibadah). Termasuk di dalamnya perbuatan, usaha, atau tindakan yang bertujuan untuk merusak, merobohkan, serta menghalang-halangi pendirian masjid dan sebagainya.
Kedua macam perbuatan itu merupakan perbuatan zalim, karena mengakibatkan hilangnya syiar agama Allah. Para mufasir sependapat bahwa ayat di atas mengisyaratkan "tindakan yang umum" dan "tindakan yang khusus".
“Tindakan yang umum” ialah segala macam tindakan yang berhubungan dengan menghalang-halangi manusia beribadah di dalam masjid dan tindakan merobohkan masjid-masjid Allah (tempat ibadah). “Tindakan yang khusus” ialah bahwa ayat di atas diturunkan untuk menjelaskan atau mengisyaratkan bahwa telah terjadi suatu peristiwa dalam sejarah yang sifatnya sama dengan sifat-sifat tindakan atau perbuatan yang disebut di dalam ayat. Para mufasir berbeda pendapat tentang peristiwa yang dimaksud oleh ayat ini.
*Pendapat pertama:* Ayat di atas mengisyaratkan tindakan orang-orang musyrik Mekah yang menghalang-halangi keinginan Rasulullah ﷺ beserta para sahabatnya yang hendak mengerjakan ibadah umrah pada bulan Zulhijah tahun ke 6 Hijri (bulan Maret 628 M). Sikap kaum Musyrik itu akhirnya melahirkan Perjanjian Hudaibiah 13)*. Timbulnya keinginan itu kembali karena dalam Perjanjian Hudaibiah Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat dibolehkan memasuki kota Mekah pada tahun setelah perjanjian itu ditanda-tangani. Tindakan mereka inilah yang dimaksud Allah dengan menghalang-halangi manusia menyebut nama Allah di dalam Masjidilharam dan usaha merobohkan masjid.14)*
Pendapat golongan pertama ini selanjutnya menegaskan bahwa pada lanjutan ayat terdapat perkataan:
أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ ۚ
_…Mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah).…_ (al-Baqarah/2:114)
Ayat ini menggambarkan bahwa akan tiba saatnya kaum Muslimin memasuki kota Mekah dengan aman dan tenteram dan orang musyrik Mekah akan memasuki Masjidilharam dengan penuh rasa takut. Hal ini terbukti di kemudian hari dengan terjadinya pembebasan kota Mekah oleh kaum Muslimin dan orang musyrik Mekah meninggalkan agama mereka dan masuk agama Islam.
*Pendapat kedua:* Ayat di atas mengisyaratkan tindakan raja Titus (70 M) dari bangsa Romawi, anak dari kaisar Vespacianus, yang menghancurkan Haikal Sulaiman dan tempat-tempat ibadah orang-orang Yahudi dan Nasrani di Yerusalem.
Tindakan orang musyrik Mekah menghalang-halangi Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin memasuki kota Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah dan tindakan raja Titus menghancurkan Baitulmakdis, termasuk di dalam "tindakan yang umum". Sedang yang dimaksud "tindakan khusus" yang sesuai dengan ayat ini ialah pendapat kedua karena adanya perkataan "merobohkan masjid" Allah di dalam ayat. Kaum musyrik Mekah tidak pernah merobohkan Masjid Allah dalam arti yang sebenarnya; mereka hanya mengotori Baitullah dan menghalangi kaum Muslim beribadah. Sedang Titus dan tentaranya benar-benar telah merobohkan Baitullah di Yerusalem dan membunuh orang-orang yang beribadah kepada Allah.
Lanjutan ayat menerangkan sifat-sifat yang harus dilakukan oleh manusia ketika memasuki masjid Allah, dengan tunduk, patuh dan memurnikan ketaatannya hanya kepada Allah semata. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa manusia dilarang memasuki masjid Allah dengan sikap-angkuh dan ria 15)*. Dilarang memasuki masjid orang yang bermaksud menghalangi manusia beribadah di dalamnya, dan orang-orang yang bermaksud merusak atau merobohkannya.
Pada akhir ayat, Allah mengancam orang yang melakukan tindakan- tindakan di atas dengan kehinaan di dunia dan azab yang pedih di akhirat. Kehinaan di dunia mungkin berupa malapetaka, kehancuran dan segala macam kehinaan baik yang langsung atau tidak langsung dirasakan oleh manusia. Bentuk azab di akhirat hanya Allah yang lebih mengetahuinya.
Allah melarang manusia melakukan segala macam tindakan yang berhubungan dengan menghalang-halangi manusia berdoa, salat, iktikaf, mempelajari agama, beribadah dan perbuatan-perbuatan yang lain dalam menegakkan syiar agama Allah di dalam masjid-masjid-Nya serta usaha merusak dan merobohkannya.
Perbuatan itu zalim dalam pandangan Allah, karena langsung atau tidak langsung berakibat lenyapnya agama Allah di bumi. Perbuatan itu demikian zalimnya sehingga Allah mengancam para pelakunya dengan kehinaan di dunia dan azab yang pedih di akhirat. Yang diperintahkan Allah ialah agar manusia memakmurkan masjid-masjid Allah, mendirikan dan memeliharanya dengan baik, masuk ke dalamnya dengan rasa tunduk dan berserah diri kepada Allah.
(115) Sebab turunnya ayat ini ialah seperti diriwayatkan oleh Jabir sebagai berikut: "Kami telah diutus oleh Rasulullah saw dalam suatu peperangan dan aku termasuk dalam pasukan itu. Ketika kami berada di tengah perjalanan, kegelapan mencekam kami, sehingga kami tidak mengetahui arah kiblat." Segolongan di antara kami berkata, "Kami telah mengetahui arah kiblat, yaitu ke sana, ke arah utara. Maka mereka salat dan membuat garis di tanah. Sebagian kami berkata, "Arah kiblat ke sana ke arah selatan." Dan mereka membuat garis di tanah. Tatkala hari subuh dan matahari pun terbit, garis itu mengarah ke arah yang bukan arah kiblat. Tatkala kami kembali dari perjalanan dan kami tanyakan kepada Rasulullah ﷺ tentang peristiwa itu, maka Nabi saw diam dan turunlah ayat ini."16)*
Allah swt menegaskan pemilikan-Nya terhadap seluruh alam ini. Dia sendiri yang mengaturnya, mengetahui apa saja yang terjadi di dalamnya, baik kecil maupun besar. Firman Allah:
…وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ [الحديد : 4]
_…Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan_. (al-Hadid/57:4)
Firman Allah yang lain:
مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ …[المجادلة : 7]
_…Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada…_ (al-Mujadalah/58:7)
… رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ … [غافر : 7]
_”...(Mereka berkata), " Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu..."_ (Gafir/40: 7)
Karena itu pada dasarnya, ke mana saja manusia menghadapkan mukanya dalam berdoa atau beribadah, ke timur, barat, utara, selatan, ke bawah, ke atas, dan sebagainya, pasti doa dan ibadahnya itu didengar Allah dan sampai kepada-Nya.
Ayat ini membantah kepercayaan bahwa Allah mempunyai tempat, bahwa doa atau ibadah akan didengar dan sampai kepada Allah bila hamba yang berdoa dan beribadah itu menghadap ke arah tertentu saja atau suatu tempat yang dianggap lebih mulia dari tempat yang lain dan sebagainya. Kata _wajh_ banyak sekali artinya. Dalam ayat ini berarti "kehadiran".
Berdasarkan ayat di atas dan sebab turunnya, dapat ditetapkan hukum sebagai berikut:
1. Kiblat itu pada dasarnya ialah seluruh arah. Kemana saja hamba menghadap pasti menemui wajah Allah. Untuk memelihara kesatuan dan persatuan kaum Muslimin ditetapkanlah Ka‘bah sebagai arah kiblat.
2. Apabila hari sangat gelap dan arah kiblat tidak diketahui, maka boleh salat menghadap ke arah yang diyakini sebagai kiblat. Jika ternyata kemudian arah itu bukan arah kiblat maka salatnya tetap sah.
3. Bagi orang yang berada di atas kendaraan yang sedang berjalan, ia boleh berkiblat ke arah yang dia sukai. Sebagian ulama menganjurkan berkiblat ke arah depan dari kendaraan itu.
(116) Pengakuan lisan dan hati orang-orang Yahudi dan Nasrani bahwa Allah mempunyai anak. Orang Yahudi mengatakan Uzair putra Allah, sedang orang Nasrani mengatakan bahwa Almasih putra Allah.
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ … [التوبة : 30]
_Dan orang-orang Yahudi berkata, ”Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, ”Almasih putra Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka_. (at-Taubah/9: 30)
Kedua kepercayaan itu pada dasarnya adalah sama, yaitu menyatakan bahwa Allah mempunyai anak dan berarti mereka mempersekutukan Allah, menyatakan bahwa Allah memerlukan pembantu dalam mengurus alam ini, menyatakan bahwa Allah mempunyai suatu cita-cita dan cita-cita itu akan dilanjutkan oleh putra-Nya seandainya Dia tidak ada lagi.
Kepercayaan dan ucapan orang-orang kafir itu tidak benar, mengherankan dan terlalu berani, Mahasuci Allah dari perkataan-perkataan yang demikian itu. Allah tidak memerlukan sesuatu pun, tidak memerlukan penolong dan pembantu dalam melaksanakan semua urusan-urusan-Nya, tidak memerlukan sesuatu pun untuk melanjutkan kehendak-Nya, karena Dia adalah kekal tidak berkesudahan.
Dari perkataan "Mahasuci Allah" dipahami bahwa pengakuan orang- orang Yahudi dan Nasrani tentang Allah mempunyai anak adalah pengakuan yang dinilai sebagai dosa besar. Karena itu hamba-hamba yang terlanjur menyatakan pengakuan itu hendaklah bertobat kepada Allah. Hanya dengan bertobat, dosa besar seseorang hamba dapat diampuni oleh Allah.
Akhir ayat ini memberi pengertian bahwa Allah hendak membersihkan diri-Nya dari perkataan orang-orang kafir. Allah menyatakan yang demikian semata-mata untuk menjaga hak hamba-hamba-Nya, membersihkan kepercayaan hamba-hamba-Nya yang dapat merugikan mereka di dunia dan di akhirat nanti.
Bahkan Allah menegaskan bahwa seluruh alam ini adalah milik-Nya, berada di bawah kekuasaan-Nya. Tidak satu pun yang dapat mengurangi kehendak-Nya dan merugikan-Nya. Semua patuh dan tunduk kepada-Nya.
(117) Allah adalah Mahapencipta. Dia menciptakan sesuatu dengan tidak mencontoh kepada apa yang telah ada, tidak menggunakan suatu bahan atau alat yang telah ada. Allah menciptakan dari yang tidak ada. Demikianlah Allah menciptakan langit dan bumi, dari yang semula tidak ada menjadi ada.
Menurut bunyi ayat, Allah menciptakan sesuatu dengan perkataan *"kun"* (jadilah), ungkapan ini adalah simplikasi atau penyederhanaan tentang Mahabesarnya kekuasaan Allah, apa saja yang dikehendaki untuk ditetapkan semua terjadi dengan mudah. Sedang yang dimaksud dengan menciptakan hanyalah sekadar misal saja, agar mudah dipahami oleh hamba-hamba-Nya. Tentang cara Allah mengadakan sesuatu dan bagaimana proses terjadinya sesuatu, hanya Allah Yang Mahatahu.
Firman Allah dalam ayat sebelumnya menjelaskan bahwa “apa-apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah dan semuanya itu tunduk dan patuh kepada Nya” merupakan pernyataan atas kekuasaan dan keperkasaan Nya. Dia yang menciptakan, Dia yang mengatur dan berkuasa atas segalanya.
Kata *“fa yakun”*, yang berarti “maka jadilah” di sini tidak mesti diartikan bahwa sesuatu itu terjadi seketika itu juga, melainkan melalui tahapan _proses_ yang memerlukan waktu. Setiap tahapan proses yang berlangsung dalam alam ini pasti akan berlaku hukum alam yakni ketentuan-ketentuan Allah atau _sunatullah_.
Proses rekayasa konstruktif dari bentuk ketersediaan bahan baku mentah menjadi bentuk barang jadi akan membutuhkan proses yang terkadang panjang dan perlu waktu. Proses terjadinya minyak bumi ataupun mineral-mineral berharga menelan waktu yang sangat lama menurut hitungan manusia.
Dalam proses penciptaan alam jagat ini, perhatikan firman Allah dalam Surah al-Anbiya'/21: 30,
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ [الأنبياء : 30]
yang artinya:
_…Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?_ (al-Anbiya'/21: 30)
Ayat di atas menjelaskan, bahwa dahulunya langit dan bumi itu suatu yang padu kemudian Allah pisahkan keduanya menjadi yang satu langit dan yang satu lagi adalah bumi. Tetapi proses pemisahan ini tidak terjadi secara seketika. Proses ini berlangsung dalam jutaan tahun. Pembentukan yang satu padu tersebut pun mungkin memerlukan proses dan waktu, tidak seketika.
Begitu pula dalam penciptaan manusia pertama, Adam alaihis salam, Siti Hawa, Isa alaihis salam dan kita serta mahluk-mahluk lain yang ada dalam alam jagat raya ini semuanya akan berlangsung dalam tahapan proses sesuai yang telah ditetapkan Nya, walaupun sesungguhnya Allah mampu merubah ketentuan-ketentuan Nya yang sudah ada menjadi ketentuan lain sesuai dengan kehendakNya.
12)* Iktikaf ialah duduk atau berdiam di dalam mesjid dengan niat ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
13)* Perjanjian yang dibuat oleh Nabi Muhammad ﷺ dengan kaum musyrik Mekah pada tahun keenam Hijri bertempat di Hudaibiah.
14)* Lihat juga: al-Anfal/8: 34, at-Taubah/9: 17 dan 18, al-Fath/48: 25.
15)* Ria ialah melakukan perbuatan bukan karena Allah, tetapi karena ingin dihormati orang.
16)* Al-Wahidi, Asbab an-Nuzul , h. 23. Kairo, 1968.
*KESIMPULAN*
1. Perbuatan yang paling zalim di sisi Allah ialah menghalang-halangi manusia beribadah di masjid-masjid dan merobohkan atau merusaknya. Allah mengingatkan orang yang melakukan perbuatan itu dengan kehinaan di dunia dan azab yang pedih di akhirat.
2. Seluruh alam ini milik Allah, Dialah yang menguasai, mengatur dan mengurusnya. Dia mengetahui apa saja yang terjadi di dalam alam ini baik yang kecil maupun yang besar, yang nyata dan yang tidak nyata. Karena itu ke mana saja hamba menghadapkan wajahnya dalam beribadah, pasti diketahui dan didengar-Nya.
3. Allah tidak mempunyai anak, dan Dia tidak memerlukan sesuatu pun dalam mengurus makhluk-Nya. Dia kekal selama-lamanya.
4. Allah menciptakan alam ini dengan tidak mencontoh kepada sesuatu yang ada. Semuanya ada atas kehendak-Nya.
_InsyaaAllah besuk di lanjutkan ke al-Baqarah/2: ayat 118 s/d 120 tentang_
*”KEINGKARAN ORANG KAFIR TERHADAP KENABIAN MUHAMMAD SAW”*
والله أعلم…
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
📝✍ *Dinukil oleh: _Alfaqir ilallah Mangesti Waluyo Sedjati_*
(Ketua KBIHU Baitul Izzah Sidoarjo)
📚 *REFERENSI :*
1. Al-Qur’an Dan Tafsirnya (Edisi
yang Disempurnakan) Juz 01,
Departemen Agama RI,
diterbitkan oleh: Penerbit Lentera
Abadi, Jakarta, Dicetak oleh:
Percetakan Ikrar Mandiriabadi,
Jakarta, 2010
2. 📚📖 Aplikasi Quran Word by Word
——
*_#Pastikan Patuhi Protokol Kesehatan_*
•┈•┈•┈•┈•┈•┈••○❁🌻💠🌻❁○••┈•┈•┈•┈•┈•┈•
🕌 *KBIHU & MAJELIS ILMU “BAITUL IZZAH” SIDOARJO*
*_“Mentradisikan hidup berdasarkan Al Qur'an dan As-Sunnah”_*
🌐 *Ikuti Sosial Media Kajian BAIZ :*
🔹 *WhatsApp :* bit.ly/3oJu311
🔹 *Chanel Telegram :* bit.ly/3BVMR20
🔹 *Facebook*
www.facebook.com/kajianbaiz
🔹 *Instagram*
www.instagram.com/kajianbaiz
📡 Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.
•┈•┈•┈•┈•┈•┈••○❁🌻💠🌻❁○••┈•┈•┈•┈•┈•┈•
Komentar