*QS. al-Baqarah/2: Ayat 47 - 48*🇮🇩
📚 *TAFSIR AL QUR’AN EPS. 20*
📖 *QS. al-Baqarah/2: Ayat 47 - 48*
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩
🌺📚*SYAFAAT DI AKHIRAT*
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (47) وَاتَّقُوا يَوْمًا لَّا تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ (48) [البقرة : 47-48]
*TERJEMAH*
_(47) Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini (pada masa itu). (48) Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) seorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun. Sedangkan syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan ditolong._
*KOSAKATA:* _Syafa‘at_ شَفَاعَةٌ (al-Baqarah/2: 48)
_Syafa‘at_ adalah memberikan bantuan atau meminta seseorang untuk memberikan bantuan kepada orang lain di depan Allah. Kata itu secara harfiyah berarti “genap”, yaitu bahwa seorang hamba dalam menghadap Allah untuk memohon penghapusan atau keringanan hukuman atas dosanya bisa dibantu orang lain dengan syarat orang yang diberi bantuan adalah orang yang diberikan izin oleh Allah dan yang memberi syafaat adalah orang-orang yang diridai oleh Allah. Menurut Al-Qur′an yang diberi hak untuk mengajukan permohonan itu hanyalah nabi-nabi, terutama Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam. (Saba′/34: 23 dan al-Anbiya′/21: 28), dan malaikat (an-Najm/53: 26) dan orang-orang saleh. Golongan Mu‘tazilah menolak adanya syafaat itu berdasarkan antara lain al-Baqarah/2:48 yang meniadakan segala bentuk syafaat, sesuai keumuman (nakirah/indefinite) kata syafaat dalam ayat itu, dan bagi orang berdosa besar sesuai surah al-Mu′min/40: 18. Ahlusunah mempercayai adanya syafaat karena adanya beberapa ayat dan hadis yang menyatakan demikian.
*MUNASABAH*
Pada ayat 40 yang lalu Allah memperingatkan Bani Israil kepada nikmat yang telah dilimpahkan kepada mereka dan nenek moyang mereka. Allah memerintahkan agar mereka memenuhi janji kepada-Nya. Pada ayat 47 ini Allah, kembali mengingatkan mereka kepada nikmat-Nya itu. Kemudian pada ayat berikutnya Dia memberikan peringatan dan ancaman kepada mereka tentang azab-Nya di hari kiamat nanti.
🌺📖 *TAFSIR*
(47) Allah telah melebihkan Bani Israil dari bangsa-bangsa lain yang pada masa itu telah mempunyai peradaban dan kebudayaan yang tinggi, misalnya bangsa Mesir dan penduduk tanah suci Palestina. Allah kembali memanggil mereka pada permulaan ayat ini dengan menyebut nama nenek moyang mereka “Israil”, ialah Nabi Yakub a.s. karena dialah yang menjadi asal kebangsaan, dan sumber kemuliaan mereka. Nikmat yang telah dilimpahkan kepadanya dapat dinikmati oleh mereka semuanya.
Kelebihan yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka dahulunya adalah karena nenek moyang mereka sangat berpegang teguh kepada sifat-sifat yang mulia, dan menjauhi sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan jelek, karena setiap orang yang mulia dan diutamakan dari orang-orang lain tentu ingin menjaga kehormatan itu, sehingga ia menjauhi sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan yang hina.
Bani Israil yang ada pada masa turunnya ayat ini telah jauh menyimpang dari sifat-sifat mulia yang dipegang teguh oleh nenek moyang mereka. Oleh karena itu, Allah memperingatkan mereka kepada nikmat dan keutamaan yang telah diberikan itu untuk menyadarkan mereka bahwa Allah yang telah memberikan kelebihan kepada mereka tentu berhak pula suatu ketika untuk memberikannya kepada orang lain, misalnya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam dan umatnya. Bani Israil itu sepatutnya lebih memperhatikan ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam. Seseorang yang diberi kelebihan sepatutnya lebih dahulu berbuat keutamaan daripada orang lain. Apabila keutamaan yang diberikan kepada Bani Israil itu disebabkan karena banyaknya para nabi dipilih dari kalangan mereka, maka hal itu tidaklah menjamin bahwa setiap pribadi dari Bani Israil itu lebih utama dari orang yang berada di luar lingkungan mereka. Bahkan ada kemungkinan bahwa orang lain lebih mulia dari mereka apabila mereka sendiri telah meninggalkan sunah dan ajaran-ajaran nabi-nabi mereka. Sementara orang lain menjadikannya petunjuk dan pedoman hidup mereka dengan sebaik-baiknya.
Apabila keutamaan mereka itu disebabkan kedekatan mereka kepada Allah, bahkan mereka pernah menganggap dirinya sebagai _sya‘bullah al-mukhtar_, karena mereka dulunya mengikuti syariat-Nya, maka hal itu hanya berlaku pada diri nabi-nabi bersama orang-orang yang menjalankan syariat-syariatnya tanpa menyimpang dari ajaran-ajaran tersebut, dan tetap berjalan pada jalan yang benar, sehingga mereka berhak menerima kelebihan dan keutamaan itu. Tetapi mereka yang sudah meninggalkan ajaran-ajaran para nabi tentu tidak dapat lagi dipandang sebagai “orang-orang yang dekat” kepada Allah.
(48) Allah memperingatkan kepada Bani Israil yang ada pada waktu turunnya ayat ini, agar mereka kembali ke jalan yang benar, mengikuti agama Allah, yang telah disempurnakan dengan wahyu-wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam. Dengan jalan itu mereka dapat menjaga diri mereka dari azab hari Kiamat, yang tak akan dapat dibendung oleh siapa pun juga, tak seorang pun dapat menyelamatkan diri dari padanya kecuali orang-orang yang beriman dan bertakwa serta mengikuti syariat dan petunjuk-petunjuk Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa pada hari Kiamat nanti tak seorang pun dapat memberikan pertolongan kepada orang lain agar terbebas dari azab-Nya, dan setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing. Seseorang tidak dapat memikul dosa orang lain, walaupun dia bersedia. Hal ini merupakan ketegasan dari Allah atas ketidakbenaran anggapan mereka bahwa berdasarkan keutamaan yang ada pada mereka, mereka akan
memperoleh syafaat. Padahal anggapan itu tidak benar, karena orang-orang yang berimanlah yang akan memperoleh syafaat dari Allah.
Syafaat ialah pertolongan yang diberikan oleh rasul atau orang-orang tertentu untuk meringankan azab atau beban seseorang di akhirat, atas izin Allah. Dalam hubungan ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
…وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ …[الأنعام : 164]
_Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain_. (al-An‘am/6:164)
… وَإِن تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَىٰ حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۗ إِنَّمَا… [فاطر : 18]
_Dan jika seseorang yang dibebani berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu, tidak akan dipikulkan untuknya sedikit pun, meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya_. (Fatir/35:18)
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37) [عبس : 34-37]
_Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya_. (‘Abasa/80:34-37)
Walau peringatan ini ditujukan kepada Bani Israil, namun berlaku juga bagi umat Islam, agar mereka selama hidup di dunia berusaha mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, agar kelak pada hari Kiamat terhindar dari azab Allah. Caranya ialah dengan mengikuti petunjuk- petunjuk Allah dan melaksanakan syariat-syariat-Nya.
*KESIMPULAN*
1. Allah telah memberikan nikmat yang banyak dan keutamaan kepada Bani Israil, tetapi keturunan mereka kemudian melupakan nikmat tersebut.
2. Pada hari kiamat nanti, setiap orang bertanggung jawab terhadap perbuatannya masing-masing. Tak ada pertolongan dari orang lain, dan tidak akan diterima tebusan dan sebagainya. Hanya keimanan, ketakwaan dan amal saleh yang dapat menyelamatkannya dari azab Kiamat. Sedangkan syafaat (pertolongan) yang diberikan oleh para malaikat, nabi dan orang-orang saleh kepada sejumlah orang, dilakukan setelah adanya izin dari Allah.
_InsyaaAllah besuk di lanjutkan ke al-Baqarah/2: ayat 49 s/d 53 tentang_
*”PEMBEBASAN BANI ISRAIL DARI KEKEJAMAN FIR‘AUN”*
والله أعلم…
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
📝✍️ *Dinukil oleh: _Alfaqir ilallah Mangesti Waluyo Sedjati_*
📚 *REFERENSI :*
1. Al-Qur’an Dan Tafsirnya (Edisi
yang Disempurnakan) Juz 01,
Departemen Agama RI,
diterbitkan oleh: Penerbit Lentera
Abadi, Jakarta, Dicetak oleh:
Percetakan Ikrar Mandiriabadi,
Jakarta, 2010
2. 📚📖 Aplikasi Quran Word by Word
——
*_#Pastikan Patuhi Protokol Kesehatan_*
•┈•┈•┈•┈•┈•┈••○❁🌻💠🌻❁○••┈•┈•┈•┈•┈•┈•
🌐 *Ikuti Sosial Media Kajian BAIZ :*
🔹 *Facebook*
www.facebook.com/kajianbaiz
🔹 *Instagram*
www.instagram.com/kajianbaiz
🔹 *WhatsApp :* bit.ly/3oJu311
🔹 *Chanel Telegram :* bit.ly/3BVMR20
📡 Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.
•┈•┈•┈•┈•┈•┈••○❁🌻💠🌻❁○••┈•┈•┈•┈•┈•┈•
Komentar