Kajian Tafsir QS. al-Baqarah/2: Ayat 35 - 37

TAFSIR AL QUR’AN EPS. 17

📖 *QS. al-Baqarah/2: Ayat 35 - 37*
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

*Yth. Bapak/Ibu* yang di Rahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

_Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh_

Alhamdulillah,  Allah masih  memberi nikmat sehat, iman dan Islam pada kita semua. Semoga kita semua selalu dipersatukan Allah hingga jannah-Nya nanti. Aamiin... 🤲

Dengan segala kerendahan hati, kami berharap share materi Tafsir ini dapat bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan terhadap Al-Qur’an sehingga akan meningkatkan nilai kehidupan kita di Dunia dan akhirat.

Sekarang kita sampai Episode ke-17….😊

🌺📚 *PENEMPATAN ADAM DI SURGA DAN GODAAN SETAN KEPADANYA*

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ (35) فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ (36) فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (37) [البقرة : 35-37]

*TERJEMAH*
_(35) Dan Kami berfirman, ”Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!” (36) Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman, ”Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (37) Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang_.

*KOSAKATA:* _Syaitan_ شَّيْطَانُ  (al-Baqarah/2: 36)
     Kata _syaitan_ berakar dari kata _syatana_ yang berarti jauh. Disebut _syaitan_ karena jauh dari kebaikan, kebenaran dan perintah Allah. Jadi, setiap yang membangkang kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala disebut _syaitan_ (setan), baik dari golongan jin atau manusia—sesuai dengan surah al-An‘am/6: 112. Ambisi setan adalah menyesatkan umat manusia sehingga jauh dari kebenaran. Atau kata tersebut terambil dari kata _syata-yasyitu_ artinya terbakar dalam kemarahan. _Syaitan_ mempunyai sifat demikian karena ia tercipta dari api (al-A‘raf/7: 12). Di dalam Al-Qur′an diterangkan bahwa di antara tingkah laku keji setan adalah mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga, menakut-nakuti akan kefakiran dan menyuruh melakukan kejahatan, menakut-nakuti agar tidak berbuat kebenaran, menipu manusia dengan kata-kata indah, mengelabui manusia sehingga kejahatan dan maksiat terlihat baik di matanya, menimbulkan kebencian dan permusuhan sesama manusia, membuat manusia lupa dari mengingat Allah, dan lain-lain. Karena itu, kita diperintahkan mewaspadai bisikan-bisikan setan, tidak mengikuti langkah- langkahnya, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan-godaannya. Di dalam surah al-A‘raf/7: 27 dijelaskan bahwa setan dari golongan jin tidak terlihat oleh kita sementara mereka melihat kita. Itulah sebabnya mengapa kita harus selalu waspada terhadap tipu daya dan godaan setan.

*MUNASABAH*
     Dalam ayat-ayat yang lalu dijelaskan bahwa Allah telah mengangkat Adam a.s. menjadi khalifah di bumi dan bahwa Adam a.s. telah diberi-Nya ilmu pengetahuan kemudian para malaikat diperintahkan agar bersujud kepadanya (Adam a.s.) dan mereka mematuhi perintah itu, kecuali Iblis. Selanjutnya dalam ayat-ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan penempatan Adam a.s. dan istrinya di surga, godaan setan terhadap mereka, dan akibat dari godaan itu. Kemudian diakhiri-Nya dengan memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya; dan ancaman terhadap orang-orang yang kafir.

🌸📖 *TAFSIR*

(35) Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan Adam a.s. dan istrinya untuk menempati surga yang telah disediakan untuk mereka. Mengenai surga yang disebutkan dalam ayat ini, sebagian besar mufasir, mengatakan bahwa surga yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah surga di langit yang dijanjikan Allah sebagai balasan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Menurut mufasir lain, surga yang tersebut dalam ayat itu adalah suatu taman, tempat Adam dan istrinya berdiam dan diberi kenikmatan hidup yang cukup.
     Dalam ayat ini diterangkan bahwa Adam a.s. dan istrinya dibolehkan menikmati makanan apa saja dan di mana saja dalam surga tersebut dengan aman dan leluasa, hanya saja Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang mereka mendekati dan memakan buah pohon tertentu yang hanya merupakan salah satu pohon saja di antara banyak pohon yang ada dalam surga itu. Setan menamakan pohon tersebut pohon keabadian, karena menurutnya, jika Adam a.s. dan istrinya memakan buah pohon itu maka mereka akan dapat kekal selama-lamanya dalam surga. Padahal yang sebenarnya adalah sebaliknya, yaitu apabila ia dan istrinya memakan buah pohon itu maka mereka akan dikeluarkan dari surga, karena hal itu merupakan pelanggaran terhadap larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika mereka melanggar larangan itu, maka mereka termasuk golongan orang zalim terhadap diri mereka, dan akan menerima hukuman dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang akan mengakibatkan mereka kehilangan kehormatan dan kebahagiaan yang telah mereka peroleh.
     Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menjelaskan hakikat dari pohon tersebut. Seseorang tak akan dapat menentukannya tanpa ada dalil yang pasti. Lagi pula, maksud utama dari kisah ini sudah tercapai tanpa memberikan keterangan tentang hakikat pohon tersebut. Tetapi dapat dikatakan bahwa larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Adam a.s. dan istrinya untuk mendekati pohon itu dan memakan buahnya, tentulah berdasarkan suatu hikmah daripada-Nya, yaitu merupakan suatu ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap Adam a.s. dan istrinya.
     (36) Dalam ayat ini dijelaskan, bahwa setan telah menggoda Adam a.s. dan istrinya sehingga akhirnya mereka tergoda dan melanggar larangan Allah untuk tidak memakan buah pohon itu.    Dalam ayat lain juga disebutkan bagaimana setan itu membujuk Adam a.s. dan istrinya.

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ [طه : 120]

_Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, ”Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?”_ (Taha/20: 120)

     Dalam firman-Nya yang lain disebutkan pula bujukan setan itu:

…وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ [الأعراف : 20]

_…Dan (setan) berkata, ”Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).”_ (al-A‘raf/7: 20)

     Dalam melakukan godaan itu, setan berusaha untuk meyakinkan Adam
a.s. bahwa ia benar-benar hanya memberikan nasihat yang baik dan untuk itu ia bersumpah:

… إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ  [الأعراف : 21]

_”…Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu.”_ (al- A‘raf/7: 21)

     Karena kesalahan yang telah dilakukan Adam dan istrinya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengeluarkan mereka dari kenikmatan dan kemuliaan yang telah mereka peroleh selama ini, lalu Allah swt memerintahkan agar mereka turun dari surga itu ke bumi. Sejak itu mereka dan setan senantiasa dalam keadaan bermusuhan satu sama lain.
     Selanjutnya, Allah menerangkan bahwa mereka itu akan memperoleh tempat tinggal dan kenikmatan hidup di bumi sampai kepada ajal masing- masing. Dengan demikian, tak seorang pun yang akan hidup kekal di bumi. Jelaslah kebohongan bisikan-bisikan setan kepada Adam a.s. dan istrinya, bahwa dengan memakan buah pohon itu mereka akan kekal selama-lamanya di dalam surga. Dalam ayat tersebut terdapat isyarat, bahwa Adam a.s. dikeluarkan bersama istrinya dari surga ke bumi bukanlah untuk membinasakan mereka, melainkan agar mereka bekerja memakmurkan bumi ini, dan bukan menjauhkan mereka dari kenikmatan hidup, sebab di bumi pun mereka tetap dikaruniai kenikmatan; dan tidak pula untuk hidup kekal, karena suatu ketika mereka akan menemui ajal dan meninggalkan dunia yang fana ini.
     (37) Dalam ayat ini diterangkan bahwa setelah Adam a.s. dikeluarkan dari surga, dia menerima ilham dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang mengajarkan kepadanya kata-kata untuk bertobat. Lalu Adam bertobat dan memohon ampun kepada Allah dengan menggunakan kata-kata tersebut, yang berbunyi sebagai berikut:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ [الأعراف : 23]

_Keduanya berkata, ”Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”_ (al-A‘raf/7: 23)

     Setelah Adam berdoa memohon ampunan kepada Allah dengan mengucapkan kata-kata tersebut, Allah pun menerima tobatnya, dan melimpahkan rahmat-Nya kepada Adam. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat dan Maha Pengasih. Sebab Allah senantiasa memberikan maaf dan ampunan serta rahmat-Nya kepada orang-orang yang bertobat dari kesalahannya.
     Tobat yang diterima Allah adalah tobat yang memenuhi hal-hal sebagai berikut:
1. Menyesali dan meninggalkan segala kesalahan yang telah dilakukan.
2. Menjauhi dan tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan dan perbuatan- perbuatan semacam itu.
3. Mengiringi perbuatan dosa itu dengan perbuatan-perbuatan yang baik.

     Dalam hal ini Rasulullah saw telah bersabda:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

_"Bertakwalah pada Allah dimanapun kamu berada, *iringilah setiap amal buruk dengan amal baik hingga ia dapat menghapusnya*, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik."_
(Musnad Ahmad No: 20435, Kitab: Musnad sahabat Anshar, Bab: Hadits Abu Dzar Al Ghifari Radliyallahu ta'ala'anhu )

     Dalam ayat ini ada dua macam sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang disebutkan sekaligus, yaitu “Maha Penerima tobat”, dan “Maha Pengasih”. Hal ini merupakan isyarat tentang jaminan Allah kepada setiap orang yang bertobat menurut cara-cara yang tersebut di atas, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala  akan melimpahkan kepadanya kebajikan dan ampunan-Nya.

*KESIMPULAN*
1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala  memerintahkan Adam dan Hawa agar tetap tinggal di surga dengan ketentuan bahwa mereka tidak boleh memakan buah pohon keabadian. Tetapi setan menggodanya, sehingga mereka berdua memakan buah itu. Karena itu Allah memerintahkan mereka turun ke bumi.
2. Manusia hidup di dunia ini hanyalah untuk waktu yang terbatas, yaitu sampai pada saat datangnya ajal masing-masing. Sebab itu, umur kita yang singkat itu hendaklah digunakan sebaik-baiknya untuk berbuat amal kebajikan, guna mempersiapkan diri untuk memperoleh kebahagiaan yang kekal di akhirat kelak.
3. Apabila manusia terlanjur melakukan suatu kesalahan, kemudian dia segera bertobat kepada Allah, maka Allah akan menerima tobatnya.
4. Dari kisah ini dapat diambil pelajaran bahwa manusia dalam kehidupannya akan menemui ujian yang akan membuktikan keimanannya yang sungguh-sungguh.

_InsyaaAllah besuk di lanjutkan ke al-Baqarah/2: ayat 38 s/d 39 tentang_ *”KEUNTUNGAN ORANG YANG MENGIKUTI PETUNJUK ALLAH DAN KERUGIAN ORANG KAFIR”*

‎والله أعلم…
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📝✍️ *Dinukil oleh: _Alfaqir ilallah Mangesti Waluyo Sedjati_*

📚 *REFERENSI :*
1. Al-Qur’an Dan Tafsirnya (Edisi 
       yang Disempurnakan) Juz 01,
      Departemen Agama RI,
      diterbitkan oleh: Penerbit Lentera
      Abadi, Jakarta, Dicetak oleh:
      Percetakan Ikrar Mandiriabadi,
      Jakarta, 2010
2. 📚📖 Aplikasi Quran Word by Word
——
*_#Pastikan Patuhi Protokol Kesehatan_*

•┈•┈•┈•┈•┈•┈••○❁🌻💠🌻❁○••┈•┈•┈•┈
🕌 *KAJIAN ISLAM & MAJELIS ILMU “BAITUL IZZAH” SIDOARJO*
*_“Mentradisikan hidup berdasarkan Al Qur'an dan As-Sunnah”_*

🌐
🔹 *Chanel Telegram :* bit.ly/3BVMR20

📡 Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.
•┈•┈•┈•┈•┈•┈••○❁🌻💠🌻❁○••┈•┈•┈•┈•┈•┈•

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pergantian yang pasti menanti

KEMBALI KE FITRAH PENDIDIKAN: AKAR PERENIAL PEDAGOGI KASIH SAYANG YANG TAK TERGANTIKAN

Menemani murid mengaji