Kajian Tafsir Al Kafirun /109:1-6

📚 *TAFSIR JUZ AMMA (155) 

📖 * QS al-Kafirun/109: 1 s/d 6*

🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩



🌺📚 *TIDAK ADA TOLERANSI DALAM HAL KEIMANAN DAN PERIBADATAN* 📚


قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ (4) وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6) [الكافرون : 1-6]


*TERJEMAH*

_(1) Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir! (2) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, (3) dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, (4) dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, (5) dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. (6) Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”_


*KOSAKATA:* _‘Ābid_  عَابِدٌ (al-Kafirun/109: 4)

     Kata _‘Abid_ merupakan bentuk _fa‘il_ (kata yang menunjuk pelaku) dari kata kerja _‘abada-ya‘budu_, yang artinya menyembah atau beribadah. Dengan demikian, _‘abid_ diartikan sebagai penyembah. Bila dikaitkan dengan subjek atau pelaku yang dimaksud dari kata ini, maka hal itu menunjuk kepada Rasulullah ﷺ. Ada mufasir yang berpendapat bahwa antara  kandungan ayat 4 ini tidak berbeda dari makna yang terdapat pada ayat 2. Pendapat ini jelas tidak tepat, sebab pada keduanya terdapat perbedaan penyebutan kata kerja ibadahnya. Pada ayat dua ungkapan yang dipergunakan untuk menunjuk pada penyembahan mempergunakan kata kerja lampau (_fi‘il madi_) yang berfungsi menerangkan sesuatu yang lalu, sedangkan sekarang atau yang akan datang tidak seperti itu. Sedang pada ayat 4 yang digunakan kata kerja bentuk sekarang (_fi‘il mudari‘_). Ini mengisyaratkan bahwa yang disembah orang musyrik pada waktu yang lalu ada kemungkinan berbeda dari yang disembah saat ini atau yang akan datang.    Sedang _‘abid_, yang terdapat pada ayat 4 ini menyatakan konsistensi Nabi dalam beribadah, seperti yang ditunjukkan pada ayat 3 dan 5, yang menggunakan bentuk sama, yaitu _fi‘il mudari‘_ atau kata kerja masa kini dan yang akan datang (_a‘budu_).

 

*MUNASABAH*

     Pada akhir Surah al-Kausar dijelaskan bahwa orang yang membenci Nabi Muhammad akan terputus. Pada awal Surah al-Kafirun, Rasulullah ﷺ diperintahkan bersikap tegas kepada orang yang ingkar kepada Allah.


*SABAB NUZUL*

     Telah diriwayatkan bahwa al-Walid bin al-Mugirah, al-‘Asbin Wa'il as- Sahmi’ al-Aswad bin Abdul Mutalib, dan Umaiyyah bin Khalaf bersama rombongan pembesar-pembesar Quraisy datang menemui Nabi ﷺ dan menyatakan, _“Hai Muhammad! Marilah engkau mengikuti agama kami dan kami mengikuti agamamu dan engkau bersama kami dalam semua masalah yang kami hadapi, engkau menyembah Tuhan kami setahun dan kami menyembah Tuhanmu setahun. Jika agama yang engkau bawa itu benar, maka kami berada bersamamu dan mendapat bagian darinya, dan jika ajaran yang ada pada kami itu benar, maka engkau telah bersekutu pula dengan kami dan engkau akan mendapat bagian pula daripadanya.”_ Beliau menjawab, _“Aku berlindung kepada Allah dari mempersekutukan-Nya.”_ Lalu turunlah Surah al-Kafirun sebagai jawaban terhadap ajakan mereka.

     Kemudian Nabi ﷺ pergi ke Masjidil Haram menemui orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul di sana dan membaca Surah al-Kafirun ini, maka mereka berputus asa untuk dapat bekerja sama dengan Nabi ﷺ. Sejak itu mulailah orang-orang Quraisy meningkatkan permusuhan mereka kepada Nabi dengan menyakiti beliau dan para sahabatnya, sehingga tiba masanya hijrah ke Medinah.


🌸📖 *TAFSIR*

     (1-2) Dalam ayat-ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar menyatakan kepada orang-orang kafir bahwa “Tuhan” yang mereka sembah bukanlah “Tuhan” yang ia sembah, karena mereka menyembah “Tuhan” yang memerlukan pembantu dan mempunyai anak atau menjelma dalam suatu bentuk atau dalam sesuatu rupa atau bentuk-bentuk lain yang mereka dakwakan.    !Sedang Nabi ﷺ menyembah Tuhan yang tidak ada tandingan-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya; tidak mempunyai anak dan istri. Akal tidak sanggup menerka bagaimana Dia, tidak ditentukan oleh tempat dan tidak terikat oleh masa, tidak memerlukan perantaraan dan tidak pula memerlukan penghubung.

     Maksud pernyataan itu adalah terdapat perbedaan sangat besar antara “Tuhan” yang disembah orang-orang kafir dengan “Tuhan” yang disembah Nabi Muhammad. Mereka menyifati tuhannya dengan sifat-sifat yang tidak layak sama sekali bagi Tuhan yang disembah Nabi.

     (3) Selanjutnya Allah menambahkan lagi pernyataan yang diperintahkan untuk disampaikan kepada orang-orang kafir dengan menyatakan bahwa mereka tidak menyembah Tuhan yang didakwahkan Nabi Muhammad, karena sifat-sifat-Nya berlainan dengan sifat-sifat “Tuhan” yang mereka sembah dan tidak mungkin dipertemukan antara kedua macam sifat tersebut. 

     (4-5) Sesudah Allah menyatakan tentang tidak mungkin ada persamaan sifat antara Tuhan yang disembah oleh Nabi saw dengan yang disembah oleh orang-orang kafir, maka dengan sendirinya tidak ada pula persamaan dalam hal ibadah. Tuhan yang disembah Nabi Muhammad adalah Tuhan yang Mahasuci dari sekutu dan tandingan, tidak menjelma pada seseorang atau memihak kepada suatu bangsa atau orang tertentu. Sedangkan “Tuhan” yang mereka sembah itu berbeda dari Tuhan yang tersebut di atas. Lagi pula ibadah nabi hanya untuk Allah saja, sedang ibadah mereka bercampur dengan syirik dan dicampuri dengan kelalaian dari Allah, maka yang demikian itu tidak dinamakan ibadah.

     Pengulangan pernyataan yang sama seperti yang terdapat dalam ayat 3 dan 5 adalah untuk memperkuat dan membuat orang yang mengusulkan kepada Nabi saw berputus asa terhadap penolakan Nabi menyembah tuhan mereka selama setahun. Pengulangan seperti ini juga terdapat dalam Surah ar-Rahman/55 dan al-Mursalat/77. Hal ini adalah biasa dalam bahasa Arab.

     (6) Kemudian dalam ayat ini, Allah mengancam orang-orang kafir dengan firman-Nya yaitu, _“Bagi kamu balasan atas amal perbuatanmu dan bagiku balasan atas amal perbuatanku.”_ Dalam ayat lain Allah berfirman:


... وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ ... [البقرة : 139]


_Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu_. (al-Baqarah/2: 139)


*KESIMPULAN*

 1. Tuhan yang disembah oleh orang-orang mukmin bukan tuhan yang disembah oleh orang-orang kafir, karena sifat keduanya berbeda.

 2. Cara ibadah yang dilakukan oleh Nabi ﷺ tidak sama dengan cara yang dilakukan oleh orang-orang kafir.

 3. Tidak ada toleransi dalam iman dan ibadah kepada Allah.


*P E N U T U P*

     Surah al-Kafirun mengisyaratkan habisnya semua harapan orang-orang kafir dalam usaha mereka agar Nabi Muhammad meninggalkan dakwahnya.

 

_InsyaaAllah besuk di lanjutkan ke ke an-Nasr/110: ayat 1 s/d 3 tentang_             

*”MEMUJI ALLAH KETIKA MENDAPAT KEMENANGAN ITU”*


‎والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم



📝✍️ *Dinukil oleh: _Alfaqir illallah Mangesti Waluyo Sedjati_*


📚 *REFERENSI :* 

 1. Al-Qur’an Dan Tafsirnya (Edisi  

       yang Disempurnakan) Juz 30,

      Departemen Agama RI, 

      diterbitkan oleh: Penerbit Lentera 

      Abadi, Jakarta, Dicetak oleh: 

      Percetakan Ikrar Mandiriabadi, 

      Jakarta, 2010

 2. 📚📖 Aplikasi Quran Word by Word

____

*#pastikan patuhi protokol kesehatan*


•┈•┈•┈•┈•┈•┈••○❁🌻💠🌻❁○••┈•┈•┈•┈•┈•┈•


🕌 *KAJIAN ISLAM & MAJELIS ILMU “BAITUL IZZAH” SIDOARJO*

*_“Mentradisikan hidup berdasarkan Al Qur'an dan As-Sunnah”_*


📡 Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.

Jazakumullahu khoiron.

•┈•┈•┈•┈•┈•┈••○❁🌻💠🌻❁○••┈•┈•┈•┈•┈•┈•

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pergantian yang pasti menanti

KEMBALI KE FITRAH PENDIDIKAN: AKAR PERENIAL PEDAGOGI KASIH SAYANG YANG TAK TERGANTIKAN

Menemani murid mengaji